Kebudayaan Indonesia

Permainan Pantak Lele

pantak lele_1375418058.jpg

PERMAINAN TRADISIONAL SUMATERA SELATAN

Permainan Pantak Lele dimainkan di daerah Sumatera, termasuk Sumatera Selatan. Adapun di daerah lain juga dimainkan dengan nama yang berbeda, seperti benthik  untuk daerah Jogjakarta dan Jawa Tengah. Pantak merupakan sejenis senjata yang biasanya ada pada ikan, seperti ikan lele. Arena bermain  berupa sebidang tanah yang cukup luas dan memanjang. Pemain biasanya anak-anak atau remaja yang terbagi ke dalam dua regu. Kedua regu tersebut melakukan undian untuk menentukan siapa yang akan bermain terlebih dahulu dan siapa yang akan berjaga.

Permainan Pantak Lele menjadi salah satu kandidat cabang olahraga lokal yang akan dipertandingkan pada POM ASEAN tahun 2014 di Palembang. Peralatan yang digunakan dalam permainan ini diantaranya adalah dua potong kayu atau rotan yang berbeda panjangnya. Kayu atau rotan pertama panjangnya sekitar 45 cm. Sedangkan kayu atau rotan kedua panjangnya sepertiga dari kayu atau rotan pertama, yakni sekitar 15 cm. Kayu atau rotan pendek disebut anak, sedangkan kayu atau rotan yang panjang disebut umak. Permainan terbagi ke dalam tiga tahap:

a. Tahap pertama

Pemain pertama bermain uthat  dengan cara mencungkil anak menggunakan umak  sejauh mungkin. Jika anak yang dicungkil tersebut tidak tertangkap oleh regu penjaga, maka umak disimpan melintang pada lubang pengungkitan tadi. Kemudian regu penjaga melemparkan anak ke umak. Jika anak tertangkap atau umak kena lemparan, maka pemain pertama tadi mati dan diganti dengan teman satu regunya yang lain.

b.Tahap kedua

Yang dilakukan pada tahap kedua adalah ilar yang berarti menimang-nimang anak dan memukulnya sejauh mungkin menggunakan umak. Jika anak tertangkap, maka permainan mati. Sedangkan apabila anak tidak tertangkap, maka penjaga harus melemparkan kembali ke tempat uthat. Jika lemparan penjaga mengenai lubang, maka pemain mati. Oleh karena itu, pemain harus berusaha menjauhkan anak dari lubang dengan cara memukulnya ketika masih bergerak. Kemudian dilakukan penghitungan jarak antara lokasi anak terakhir dengan lobang menggunakan panjang umak atau anak. Dihitung menggunakan panjang umak apabila saat ilar hanya ditimang sekali. Adapun dihitung menggunakan panjang anak  apabila ditimang dua kali. Atau dihitung kelipatan lima dari panjang umak apabila ditimang tiga kali.

c.Tahap ketiga

Pantak lele disandarkan pada lubang dengan salah satu ujungnya yang mencuat ke atas. Ujung yang mencuat tersebut dipukul agar anak melenting ke atas. Saat anak melenting tersebut ditimang sebanyak mungkin dan dipukul sejauh mungkin dari lubang. Jika anak tidak tertangkap penjaga, maka dilakukan penghitungan memakai anak atau umak tergantung berapa kali menimang. Sebaliknya, jika penjaga berhasil menangkap anak akan mendapatkan poin juga mematikan pemain yang sedang bermain. Tangkapan hasil uthat, ilar, pantak lele adalah 10, 20, dan 50 atau tergantung perjanjian kedua regu. Jika regu pemain telah mencapai nilai sesuai kesepakatan, maka regu penjaga dihukum berjalan satu kaki, sedangkan kaki lain menjepit kayu atau benda lain. Pada saat pelaksanaan hukuman tersebut anggota regu pemain bersorak sambil mengejek “kucing makan tulang”. Namun jika regu penjaga dapat mematikan semua anggota regu pemain, maka terjadi pergantian regu yang bermain.

Sumber: Direktorat Permuseuman. 1998. Permainan Tradisional Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman.

Foto: zulfaanankara.wordpress.com

 

 


Galeri Gambar



Budaya Terkait