Kebudayaan Indonesia

Masjid Kasimuddin - Kalimantan Utara

kasimuddin1_1373874111.jpg


Masjid Kasimuddin Tanjung Palas terletak di Desa Tanjung Palas Tengah, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Propinsi Kalimantan Timur. Namun Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) diresmikan dan disyahkan dalam sidang paripurna DRPRI pada hari Kamis tanggal 25 Oktober 2012 yang lalu. Provinsi ke 34 yang baru terbentuk ini terdiri dari  lima kabupaten dan satu kota, yakni Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Bulungan, dan Kota Tarakan. Tanjung Selor yang merupakan ibukota kabupaten Bulungan ditetapkan sebagai ibukota Propinsi.  Semenjak saat itu alamat Masjid Kasimuddinpun berubah menjadi  Desa Tanjung Palas Tengah, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Propinsi Kalimantan Utara.

Luas tanah bangunan ini adalah 3.650,25 m2 , dan luas bangunan 585,64 m2 . Bangunan masjid terbuat dari papan kayu ulin. Menurut keterangan masyarakat setempat pondasi dan lantainya terbuat dari campuran semen dan batu yang berlapiskan tegel/ubin bermotif arsitektur Eropa yang diimpor darI Belanda.

 

Ruang utama Masjid Kasimuddin dengan tiang-tiang yang terbuat dari kayu ulin ( foto : muhzarkasy-bulungan.blogspot)

Ruang utama berbentuk bujur sangkar, berukuran 19 x 19 m, tinggi bangunan sampai puncaknya 15,50 m. Bangunan ruang utama mempunyai beberapa tiang penyangga yang terdiri dari empat  tiang utama/saka guru dengan penampang segi empat, tinggi 11,15 m. Duabelas tiang pembantu dengan penampang segiempat tinggi 8 m mengelilingi tiang utama. Lima puluh buah tiang pembantu deretan ke tiga mengelilingi 12 tiang pembantu, merupakan deretan tiang paling luar yang sekaligus menjadi pegangan konstruksi papan dinding dan pintu-pintu masjid, dan empat puluh tujuh tiang.

Masjid Kasimuddin tidak mempunyai jendela, sedangkan pintu masuknya 11 buah yang terletak disekiling bangunan. Bangunan pengimaman mempunyai kekhususan pada ruangan dan atapnya. Ruang tersebut berukuran 3,60 x 2,80 m dengan bentuk segi lima. Dinding semi permanen terdiri atas bagian bawah setinggi satu meter terbuat dari pasangan ubin/tegel bermotif dengan warna hijau papan kuning, dinding atas terbuat dari bahan kayu ulin. Pada bagian depan ruangan pengimaman/mihrab dipasang kaca berwarna putih bening dan bagian atasnya dipasang kaca berwarna hijau yang mengelilingi ruangan tesebut. Jendela-jendela kaca ini berfungsi sebagai alat penerangan ruangan masjid.

 

Mimbar di Masjid Sultan Kasimuddin (foto : muhzarkasy-bulungan.blogspot)

Di ruang pengimaman terdapat enam tiang berfungsi sebagai penopang atap. Atapnya tidak bersusun tiga, melainkan hanya satu dan lebih pedek dari pada atap bangunan induk. Atap pengimaman ini berbentuk segi delapan. Puncak kubahnya seperti bangunan induk, makin keatas atap kubahnya makin mengecil/meruncing dan pada ujungnya terdapat sebuah mahkota yang terbuat dari kayu ukir.

Di Masjid Sultan Kasimuddin ini juga dilengkapi dengan Beduk yang sudah sama tuanya dengan bangunan masjidnya sendiri namun masih berfungsi dan kondisi kayunya pun masih sangat baik. Berdasarkan kisah yang berkembang di masyarakat disebutkan bahwa Konon kayu yang dijadikan beduk ini hanyut dari hulu dan terdampar didalam parit dekat lokasi pembangunan Masjid Kasimuddin, potongan kayu tersebut sudah berbentuk beduk. Potongan kayu yang disebut oleh ketua-ketua kampung sebagai "nenek kayu". Kemudian potongan kayu tersebut dijadikan beduk di Masjid Sultan Kasimuddin. Beduk berukuran panjang 274 cm, dan bergaris tengah 47 cm dengan ketebalan kayu sekitar 1 inci atau 2,4 cm ini sampai kini masih terawatt dan berfungsi dengan baik di masjid Kasimuddin.

 

Beduk di Masjid Sultan Kasimuddin (foto: muhzarkasy-bulungan.blogspot)

Masjid Kasimuddin didirikan pada waktu pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Kasimuddin (1901-1925) Raja Bulongan. Setelah meningga, belian dimakamkan di halaman masjid sebelah barat, sedangkan makam disekitarnya merupakan makam keluarga raja. Pemugaran Masjid Kasimuddin dilaksanakan oleh Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Timur dari anggaran tahun 1992/1993 – 1993/1994.

 

 

Sumber tulisan:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1999). Masjid Kuno Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat.

bujangmasjid.blogspot

 


Galeri Gambar


Galeri Video



Budaya Terkait