Kebudayaan Indonesia

Masjid Shirotal Mustaqim - Kalimantan Timur

Kalimantan Timur - Sirothol Mustaqim 2_1407299706.jpg

Di Samarinda Seberang ada sebuah kampung yang bernama “Kampung Mesjid”. Kata “Mesjid” pada nama kampung ini memang merujuk pada sebuah masjid yang sudah berdiri ditengah kampung tersebut sejak abad ke 19. Masjid tersebut merupakan masjid tertua di kota Samarinda dibangun pada tahun 1881 dengan nama Masjid Jami’ dan sejak tahun 1960 namanya berganti menjadi Masjid Shirothal Mustaqim.

Masjid Shirotal Mustaqim terletak di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, propinsi Kalimantan Timur. Untuk mencapainya dari pusat kota Samarinda, harus menyeberangi sungai Mahakam melalui Jembatan Mahakam.

Desa Kampung Masjid tidak jauh dari Sungai Mahakam. Didepan masjid berdiri Madrasah Tsanawiyah. Bangunan masjid terbuat dari kayu dan beratap seng berdiri di atas lahan yang berukuran 47,40 x 123,30 m dan berdenah bujur sangkar dengan ukuran 20 x 21 m. Tinggi bangunan masjid sampai bagian puncaknya 17 m dan berkolong. Masjid memiliki serambi di sebelah timur (depan), dan ruang utama.

Untuk masuk ke serambi dapat melalui pintu-pintu di sebelah timur, selatan, dan utara. Pintu ini mempunyai dua buah daun pintu yang besar dari kayu dan di cat warna hijau, dengan kunci dan engsel pintu terbuat dari kayu pula. Ukuran tinggi pintu 2,50 m dan lebar 2 m.

Menara Masjid Shirotal Mustaqim

Pada awalnya, bangunan masjid mempunyai sebuah teras/serambi di bagian timur yang ditopang dengan delapan buah tiang berbentuk segi empat. Kemudian tahun 1984 diadakan perluasan dengan menambah serambi baru pada bagian sebelah selatan dan utaranya, serta membuat pagar sekeliling serambi. Pagarnya setinggi 90 cm.

Ruang utama mempunyai dinding dari kayu dan jendela berbentuk persegi panjang 16 buah dengan dua buah daun jendela. Ukuran jendela 170 x 125 m dan pada bagian kusen jendela dipasang teralis dari kayu berbentuk bulat sebanyak tujuh buah teralis. Di dalam ruang utama berdiri empat buah tiang utama segi delapan yang semakin ke atas semakin kecil. Tinggi tiang 15 m berdiameter 60 cm bagian bawah dan bagian atapnya 30 cm. Tiang-tiang utama befungsi sebagai pendukung atap teratas, sekaligus sebuah pegangan seluruh struktur konstruksi bangunan. Selain itu, terdapat pula tiang-tiang penopang persegi empat berjumlah 12 buah tiang dan berfungsi sebagai pendukung konstruksi atap kedua. Tinggi tiang ini sekitar 10 m dan berdiameter 30 cm. Tiang-tiang lainnya yaitu berjumlah 22 tiang yang merupakan deretan tiang paling luar yang berfungsi sebagai pegangan konstruksi dinding disamping 12 tiang pendukung atap ke tiga atau atap terbawah.

Di dalam ruang utama terdapat mihrab dan mimbar. Mihrab terletak di bagian tengah di belakang masjid yang berbentuk penampil. Penampil ini berukuran 4,30 x 2 m. Pada bagian atas mihrab terdapat hiasan ukiran suluran dan tulisan Arab (kaligrafi) serta angka tahun peresmian masjid ukiran bercat warna emas. Di sebelah kanan mihrab agak bergeser ke utara terdapat sebuah mimbar yang indah, berukuran 1 x 2,50 m dan tinggi 3 m. Mimbar diukir dengan hiasan daun dan bunga yang berbentuk salur –salur pada bagian dindingnya, dan pada bagian atas depan mimbar terdapat tulisan Arab (kaligrafi) serta angka tahun peresmian masjid (1311 H).

Atap masjid terdiri atas tiga tingkatan. Pada bagian atatp kedua terdapat jendela-jendela kaca berbentuk persegi empat panjang sebanyak 12 jendela. Pada bagian atap ketiga (puncak atap) terdapat pula 12 jendela kaca yang terdiri atas empat buah jendela kaca berbentuk persegi empat dari delapan buah jendela kaca berbentuk bulat. Pada puncak atapnya berbentuk limas an yang mempunyai hiasan bulan bintang sebagai mahkotanya dan kelopak simbar di setiap sudut atapnya empat buah. Simbar ini berbentuk ukiran salur-salur daun dan bunga.

Sebagai pelengkap, masjid ini memiliki menara yang terbuat dari kayu. Pada awal berdirinya masjid ini tidak mempunyai menara. Masjid baru dibangun setelah sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 1902 oleh orang Belanda bernama Henry Dasen yang telah masuk agama Islam. Letak menara di sudut timur laut masjid.

Bentuk menara segi delapan dengan ketinggina dari permukaan tanah hingga puncak atap sekitar 21 m dan bertingkat empat, masing-masing tingkat dihubungkan dengan tangga naik. Atap menara berbentuk limasan atau kerucut  (segi delapan) sehingga seperti paying terbuka. Pada puncaknya terdapat mahkota yang dihiasi dengan bulan bintang dan panah petunjuk arah mata angin yang dibuat dari logam.

Berdasarkan informasi dari masyarakat Masjid Shirotol Mustaqim dibangun oleh Pangeran Bendahara bersama masyarakat muslim selama sepuluh tahun dan diresmikan pada tanggal 27 Rajab 1311 Hijriyah atau 1891 Masehi. Angka tahun peresmian dipahatkan pada hiasan di atas ruang mihrab dan mimbar.

Adapun Pangeran Bendahara adalah nama gelar yang diberikan kepada Said Abdurrahman bin Assegaf oleh Sultai Kutai Aji Muhammad Sulaiman, pada waktu diangkat menjadi Kepala Adat di Kawasan Samarinda Seberang pada tahun 1880. Pangeran Bendahara adalah seorang bangsawan kelahiran Pontianak dan merupakan seorang muslim yang taat dan sekaligus sebagai penyebar agama Islam. Pada tahun 1984 dibangun penambahan pada serambi sebelah utara dan tahun 1979 menara diperbaiki oleh masyarakat.

Masjid ini kini menjadi salah satu tempat wisata religi pavorit di kota Samarinda. Ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan. Bahkan menurut penuturan pengurus masjid Shirothal Mustaqim, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menyempatkan diri singgah ke masjid ini untuk Salat Subuh bersama dengan warga Samarinda Seberang dalam sebuah lawatannya ke Samarinda.

Di bulan September 2003, Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda ini meraih anugerah sebagai peserta terbaik ke-dua di Festival Masjid Masjid Bersejarah Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Masjid Indonesia. Selain itu, Masjid Shirothal Mustaqim termasuk sebagai bangunan cagar budaya di kota Samarinda yang dilindungi UU No 5 tahun 1992.

Masjid Shirothal Mustaqim pernah menjalani perbaikan perbaikan ringan dan penambahan fasilitas penunjang. Berturut pembangunan masjid dilakukan tahun 1970, 1989 dan terahir tahun 2001 oleh Wali Kota Samarinda Achmad Amins, tanpa merubah bentuk tapi menambah fasilitas prasarana masjid misalkan tempat wudhu, rumah kaum, perpustakaan, sekretariat Irma dan taman masjid.

Pada bulan Desember 2011, Ishak Ismail, Humas Masjid Sirathal Mustaqim mengungkapkan kepada publik bahwa hasil penelusuran yang dilakukan didapatkan bukti bahwa masjid Shirothal Mustaqim pada awalnya berdirinya hingga tahun 1960 bernama Masjid Jami. Nama Shirotal Mustaqim mulai disandang masjid ini sejak tahun 1960 setelah datangnya ulama dari Banjarmasin bernama KH Samuri Arsyad yang aktif mengajar di masjid ini. Perubahan nama masjid itu diawali beberapa musyawarah yang dilakukan KH Samsuri Arsyad bersama beberapa tokoh warga dan imam masjid. Setelah meminta petunjuk pada Allah SWT, akhirnya masjid itu berubah nama menjadi Masjid Shirothal Mustaqim hingga saat ini.

 

Sumber  :

  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1999). Masjid Kuno Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat.
  • bujangmasjid.blogspot.com

Galeri Gambar



Budaya Terkait