Kebudayaan Indonesia

Kelompok Kekerabatan Masyarakat Aceh

KELOMPOK-KELOMPOK KEKERABATAN DALAM MASYARAKAT ACEH2.jpg

KELOMPOK-KELOMPOK KEKERABATAN DALAM MASYARAKAT ACEH

Keluarga Batih

Sistem kelompok keluarga masyarakat Aceh pada umumnya menganut sistem keluarga batih. Rumah-tangga terdiri atas keluarga kecil yaitu ayah, ibu dan anak-anak yang belum kawin. Apabila seseorang anak sudah kawin, ia akan mendirikan rumah-tangga sendiri sebagai keluarga batih pula. Seseorang yang baru kawin, tidak seberapa lama menetap bersama-sama dalam keluarga batih dari ayah atau mertuanya. Ada yang menetap beberapa bulan saja atau sampai lahir seorang anak.

Seseorang yang sudah memisahkan diri dari keluarga batih ayahnya atau mertuanya disebut dengan peu meukleh, atau jawe di Gayo. Keluarga batih dalam masyarakat Aceh tidak mempunyai istilah tersendiri, kecuali dalam masyarakat Gayo istilah keluarga batih disebut dengan sara ine. Ayah dan ibu dalam keluarga batih, mempunyai peranan penting untuk mengasuh keluarga sampai dewasa.

Peranan ini sudah menjadi tanggung-jawab ayah dan ibu meliputi segala kebutuhan keluarga seperti kebutuhan akan sandang-pangan, kesehatan dan pendidikan. Kebutuhan terhadap pendidikan anak-anaknya sangat penting bagi masyarakat Aceh. Karena menurut sudut pandangan agama, orang tua tidak boleh mengabaikan pendidikan anaknya, baik pendidikan agama maupun pendidikan umum.

Kegiatan dalam keluarga batih, merupakan kegiatan bersama. Kegiatan ini tampak pada waktu tron u blang (turun ke sawah), atau turunku urne di Gayo, meulampoh (berkebun) semua anggota keluarga batih menjadi tenaga pelaksana. Pembagian kerja antara anggota keluarga sesuai menurut kemauan mereka masing-masing. Biasanya anak-anak diberikan pekerjaan yang lebih ringan, karena ia belum mampu mengerjakan pekerjaan yang berat.

Keluarga Luas

Sistem keluarga luas hanya terdapat pada masyarakat Gayo di Aceh Tengah. Ukuran keluarga dalam masyarakat  Gayo hanya ditentukan oleh tempat tinggal dan hidup dalam satu kesatuan ekonomi. Keluarga luas di Gayo ini bisa disebut sara dapur (satu dapur) atau sara kuren (satu periuk). Mereka tinggal dalam suatu rumah besar (rumah belah rang atau rumah time ruang bersamasama -dengan keluarga luas lainnya. Keluarga-keluarga luas seperti itu sering juga disebut sara berine.

Apabila salah satu anggota keluarga sudah kawin, ia akan pindah ke dalam satu bilik (kamar), tetapi masih dalam rumah itu juga, dan masih dalam kesatuan ekonomis dengan keluarga batih senior. Pada satu saat keluarga batih ini berdiri sendiri secara ekonomis (jawe) dan terpisah dari keluarga luasnya. Kesatuan keluarga luas yang mendiami satu rumah besar ini sering disebut sara kuru, atau saudere. Kelompok seperti ini kadang-kadang tidak harus dalam satu rumah, tetapi berada pada beberapa rumah. Setiap rumah di Gayo pada masa lalu mempunyai nama-nama tersendiri seperti: Umah Melige, Kuli, Berukir, Genuren, Kul, Nangka, Kedeusa dan lain-lain.

Perkembangannya pada saat sekarang, menunjukkan suatu gejala akan lenyapnya umah timeu ruang sebagai tempat tinggal sedere. Sekarang ini kelihatan banyak bangunan perumahan di pedesaan meniru pola perumahan perkotaan. Rumah tidak lagi berbentuk memanjang yang terdiri atas kamar-kamar dalam bentuk panggung (tinggi). Pola yang baru ini tidak seberapa membutuhkan kayu-kayu sebagai bahannya. Lagi pula keluarga sara ine tadi berkeinginan untuk memisahkan diri dari umah timeu ruang.

Kien kecil

Lama-kelamaan perkembangan sedere, tidak mungkin tertampung lagi di dalam umeh timeu ruang tadi, karena jumlahnya semakin besar dan semakin banyak pula membutuhkan tempat tinggal. Maka terjadilah pemisahan tempat dengan mendirikan rumah baru. Rumah baru ini kemudian berkembang pula menjadi rumah besar seperti di atas tadi. Walaupun timbul pemisahan tempat tinggal, akan tetapi tali kekerabatan tetap tidak berubah. Antara satu rumah dengan rumah yang lain masih diikat oleh pertalian sedere. Dari ikatan pertalian ini terjadilah kien kecil dalam masyarakat Gayo yang disebut dengan belah. Anggota dari satu kien kecil (belah) ini memelihara adat exogami.

Pada saat-saat tertentu mereka mengadakan aktifitas bersama, misalnya dalam pertanian atau upacara adat (resam) yang lain. Pada belah tertentu rupanya pada masa lalu memiliki binatang totem. Setiap belah biasanya mempunyai nama tersendiri seperti cebero, jongok, melala, gunung, beno, munte, bukit, linge, dan lain-lain.

Pada masa kini kehidupan belah di Gayo mulai tidak berfungsi lagi seperti di masa lalu. Namun pada beberapa kampung tertentu tampak masih bertahan. Di pihak lain di kampung seperti itupun sudah sering terjadi pelanggaran terhadap norma belah itu, misalnya adanya pelanggaran terhadap exogami belah itu.


Galeri Gambar



Budaya Terkait