Kebudayaan Indonesia

Kekerabatan Masyarakat Gorontalo

KEKERABATAN DALAM MASYARAKAT GORONTALO1.jpg

KEKERABATAN DALAM MASYARAKAT GORONTALO

Di dalam masyarakat Gorontalo, keluarga inti disebut ngala’a. Dalam keluarga, suami dianggap sebagai pemimpin (khilafah), karena ia berperan sebagai pencari nafkah, sedangkan istri umumnya tinggal di rumah untuk mengurus anak. Dahulu, satu keluarga inti bisa beranggotakan hingga belasan orang, terutama jika sang Suami memiliki istri lebih dari satu. Semakin ke sini, sudah jarang dijumpai keluarga dengan banyak anggota seperti itu. Bisa jadi karena semakin berkurangnya praktik poligami dan tradisi memiliki banyak anak, seiring dengan tren pekermbangan zaman.

Dahulu, anak laki-laki banyak dinikahkan muda, yakni dalam usia 16 hingga 17 tahun, sementara anak perempuan lebih muda lagi, bisa dalam usia 14-15 tahun—setelah dia mendapatkan menstruasi pertamanya. Banyak dari muda-mudi tersebut yang diniahkan lewat perjodohan. Mereka sendiri umumnya menerima, sebagai asas ketaatan pada orang tua.

Dalam etika masyarakat Gorontalo, penghormatan terhadap yang lebih tua adalah hal penting, sehingga, setiap pilihan orang tua, termasuk dalam hal jodoh jarang ditentang. Namun demikian, dewasa ini, praktik jodoh-menjodohkan ini semakin jarang. Praktik perjodohan hanya sedikit saja dijumpai, terutama di daerah pedesaan. Muda-muda dalam usia belia pun sudah lumrah dengan istilah ‘berpacaran’, dan mereka menikah dalam usia yang lebih matang (di atas 20 tahun).

Dalam bahasa Gorontalo, keluarga luas disebut ungala’a. Keluarga luas terbentuk dari jalinan hubungan antara keluarga-keluarga dalam satu keturunan (umumnya mencakup tiga hingga empat generasi), yang saling menyokong satu sama lain (mohuyula), seperti dalam pernikahan, kematian, dan sunatan. Dalam lingkaran keluarga luas yang letak rumahnya berdekatan, tradisi tolong-menolong berlangsung, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berbagi beras, lauk-pauk, dan kebutuhan hidup keseharian lainnya, atau dalam pengelolaan lahan pertanian secara bersama.

Dalam keluarga luas ini, para orang tua aktif memberikan informasi pada anak-anak mereka mengenai siapa-siapa saja anggota keluarga besar mereka, baik dari pihak ibu maupun ayah, agar mereka mengenal satu-sama lain hingga generasi ketiga atau keempat. Ajang-ajang pertemuan besar keluarga menjadi kesempatan terbaik untuk memperkenalkan para sanak famili pada generasi muda.

Prinsip-prinsip Keturunan
Prinsip keturunan yang berlaku dalam masyarakat Gorontalo adalah bilateral, atau mengenal struktur keluarga pihak perempuan, sama luasnya dengan pihak laki-laki. Setiap individu dalam keluarga luas dianjurkan untuk membantu saudara-saudara yang memerlukan bantuan, bhaik dari pihak ibu maupun ayah, seperti dalam penyelenggaraan pesta perkawianan, kematian, sunatan, gunting rambut, dan lain sebagainya.


Galeri Gambar



Budaya Terkait