Kebudayaan Indonesia

Igi, Si Perangkap Ikan Suku Talaud

IGI, SI PERANGKAP IKAN SUKU TALAUD1.jpg

IGI, SI PERANGKAP IKAN SUKU TALAUD

Sebagai Negara maritim, Indonesia memiliki luas laut yang luar biasa luasnya sehingga sebagian besar seluruh wilayah di Indonesia memiliki cara dan kebiasaan tersendiri untuk memanfaatkan sumber daya laut tersebut. Diuntungkan dari letak geografis tersebut, sebagian besar masyarakat suku Talaud di Sulawesi pun adalah nelayan. Sehingga banyak sekali alat produksi yang dibuat khusus untuk mempermudah penagkapan ikan.

Ada yang menarik dari alat produksi yang dibuat suku Talaud, yaitu alat penangkapan ikan untuk kategori perangkap berupa ‘igi’. Tumpina, ula, bebbihe, tumbeka, somba, pahato, atau apapaun nama lainnya yang semuanya itu lebih dikenal dengan nama ‘igi’. Tumpina adalah igi dalam ukuran kecil. Tumpina (igi kecil) ini digunakan untuk menangkap ikan-ikan kecil di sela batu karang. Berbentuk segi delapan, diameternya yang terkecil 25 cm yang besar 30 cm. tingginya 10 sampai 15 cm. lubang masuknya terletak di tengah bagian atas, terbuat dari bambu yang dianyam.

Ula adalah igi kecil yang digunakan untuk menangkap udang. Berbentuk bulat dengan diameter kurang lebih 20 cm, panjangnya antara 30-50 cm. pintu masuknya besar dan berbentuk kerucut. Sedangkan ikan-ikan besar yang bergerak bebas diperangkap dengan menggunakan Bebbihe dan Tumbekka. Caranya adalah dibenamkan dalam kedalaman 1-3 meter dengan menggunakan batu pemberat. Bentuknya agak lonjong dan persegi empat. Ukuran panjang, lebar, dan tingginya adalah berkisar antara 100 cm, 70 cm, 50  cm. Benda ini juga masih sama dengan igi yang dibut dari anyaman bambu.

Somba dan pahato sama halnya dengan Bebbihe dan Tumbeka. Hanya saja yang menjadi perbedaan adalah ukuran yang digunakan. Hal ini disesuaikan dengan ikan apa yang menjadi buruan dengan menggunakan Somba dan ikan yang menggunakan perangkap Bebbihe. Kadang-kadang panjang Somba dan pahato sampai 3 meter, lebarnya 2 meter, dan tingginya 1 meter. Ini digunalkan untuk ikan yang lebih besar dan di ke dalaman laut yang lebih dalam tentunya. Namun mau apapun itu namanya, sejenis ‘igi’ ini dipasang di pesisir saat keadaan laut sedang surut dan menunggu pasang-naik, lalu surut kembali untuk dilihat apakah perangkapnya berhasil menangkap ikan atau tidak.

Alat yang dibuat untuk penangkapan ikan lain beragam variasinya. Ada yang berupa alat menjala sehingga diberi nama landra (pukat apung), kalasey (jala yang terbuat dari bambu) pukat biasa, juga sasile untuk menangkap udang. Alat untuk mengail dan memancing, seperti tali senar (tali nylor), tali rami, pekkeng (mata kail), timbeha atau larung (timah atau besi, atau batu sebagai alat pemberat), bawuhunang (gelendongan untuk tali). Alat untuk senjata tusuk menangkap ikan, seperti papiti (panah besi dengan tangkainya dari kayu dan alat pembusurnya dari karet, biasanya karet yang digunakan adalah ‘ban dalam mobil’), sahempang (tombak dari kulit enau dan tangkainya dari bambu, memiliki lebih dari 5 mata tombak), dan tatou (tombak dari kulit enau dan tangkainya dari bambu, namun hanya memiliki satu sampai tiga mata tombak).


Galeri Gambar



Budaya Terkait