Kebudayaan Indonesia

Bercocok Tanam Ala Suku Boti

BERCOCOK TANAM ALA SUKU BOTI, NUSA TENGGARA TIMUR

Masyarakat Suku Boti merupakan petani yang berladang di tanah yang kering dan tandus. Mereka bertani dengan cara menebas dan membakar. Hasil pertanian mereka merupakan kebutuhan pokok bagi mereka sendiri secara subsisten.

Awal mereka bercocok tanam ialah dengan menebang hutan. Kemudian tebasan hutan tersebut dibakar untuk membuat lahan agar bersih dari sisa tebasan. Setelah lahan bersih, baru diadakan penanaman seperti padi. Baru setelah panen mereka mengadakan panen pertama dan penen terakhir.


Kondisi alam yang kering membuat hasil pertanian merekan gagal untuk dipanen. Pemujaan terhadap roh Uis Pah (Dewa Bumi) dan hasil pertanian memiliki hubungan yang erat. Ketika panen dirasa gagal, pemujaan terhadap Uis Pah pun dilakukan. Roh ini dianggap mempunyai kekuatan alam terhadap cuaca. Karena Uis Pah merupakan penguasa bumi menurut kepercayaan setempat.

Memang pada dasarnya kondisi alam pulau Timor sangat sering menimbulkan kerusakan bagi pertanian masyarakat Timor. Sedangkan, bertani merupakan kegiatan ekonomi mereka yang utama. Fox menggungkapkan “Timor merupakan salah satu pulau yang terletak pada busur luar (outer arc) pegunungan Sunda Kecil. Wilayahnya terdiri dari pegunungan dan dataran tiggi. Keadaaan tanahya berupa tanah liat berpori yang mengandung kapur Permian dan marl. Tanah jenis ini tidak mendukung tumbuhnya vegetasi penutup. Pada musim hujan kedaan tanah banya mengandung air, dan akan mengembang bila telah penuh air hujan.

Pada musim kemarau, tanah menjadi rengkah dan sangat keras. Komposisi tanah dari batu kapur dan tanah liat ini berpengaruh terhadap adanya sumber air, yang banyak ditemukan di daerah dataran tinggi. Masalah sumber air ini menimbulkan bentuk permukimn dan usaha pertanian yang berpusat di daerah pegunungan dan pengembangan usaha tani lahan kering yang didominasi oleh jagung dan palawija.


Dalam hal pekerjaan, mereka tidak akan lepas dari kepercayaan yang mereka anut. Apa yang mereka kerjakan selalu berhubungan dengan roh yang mereka sembah. Adapun doktrin kerja yang mereka junjung ialah “meup on ate, tah in usif” (bekerja seperti hamba, makan seperti raja). Mereka bekerja keras untuk menikmati hasil bumu dalam alam yang tidak selalu memberikan hasil bumi yang baik. Alamya dikaruniai Tuhan yang mereka sebut sebagai Uis Neno harus dipelihara dengan bekerja mengola alam dengan cara bertani dan mengolah hasil bumi. Karena itu hampir semu peralatan kehidupan mereka bahan-bahannya dibuat dari alam dan dikerjakn dengan tangan.


Galeri Gambar



Budaya Terkait