Kebudayaan Indonesia

Suku Batin

Suku Batin 1.jpg

Suku Batin berdiam di sekitar Pegunungan Bukit Barisan, Kabupaten Sarolangun Bangko dan Bungo Tebo, Propinsi Jambi. Wilayah tempat tinggal orang Batin meliputi Kecamatan Jangkat, Muara Siau, Bangko, Tabir, dan Muara Bungo. Selain suku Batin, wilayah Jambi juga sudah lama didiami oleh suku-suku lain, yaitu suku Kubu, suku Melayu Jambi dan suku Kerinci.

Masyarakat Batin mulai menempati tempat-tempat tersebut diperkirakan sekitar abad pertama Masehi. Ada dua pendapat mengenai asal usul dari suku Batin, yaitu ada yang mengatakan berasal dari suku Kerinici. Pendapat pertama didasarkan pada cerita rakyat setempat,  nenek moyang orang Batin adalah suku bangsa Kerinci yang pindah dari kaki Gunung Kerinci ke daerah tempat tinggal mereka saat ini.

Ada juga yang berpendapat dari suku Minangkabau. Pendapat ini didasarkan pada beberapa hal, di antaranya adalah dari segi aksen, logat dan kemiripan kata dalam bahasa ketiga suku tersebut. Masyarakat Batin termasuk dalam ketegori proto-Melayu. Kebudayaan Minangkabau sangat mempengaruhi suku Kerinci ke daerah tempat tinggal mereka. Kebudayaan Minangkabau yang sangat mempengaruhi suku Kerinci tersebut, juga terlihat pada kehidupan orang Batin.

Kebudayaan orang Batin merupakan perpaduan unsur-unsur kebudayaan Minangkabau dan Melayu Jambi. Misalnya, dalam hal berbahasa dan sistem kekerabatan. Bahasa batin termasuk bagian dari bahasa Melayu Jambi, tetapi dialek bahasa Batin banyak dipengaruhi oleh bahasa Minangkabau.

Sistem kekerabatan orang Batin adalah matrilineal (garis keturunan ditarik dari pihak ibu). Dalam kehidupan sehari-hari, orang Batin lebih dekat dengan kerabat pihak ibu daripada kerabat pihak ayah. Tetapi laki-laki tetap berperan sebagai kepala keluarga dalam rumah tangganya. Di samping sistem pendidikan umum yang dijalankan di sekolah-sekolah, juga terdapat pendidikan dari madrasah-madrasah.

Sebuah dusun dihuni oleh sejumlah keluarga luas yang disebut piak. Setiap piak dikepalai oleh seorang ninik mamak. Pemimpin dusun yang bergelar rio diangkat berdasarkan hasil musyawarah dari seluruh ninik mamak. Dalam menjalankan kepemimpinannya, rio didampingi oleh para ninik mamak. Dengan demikian, segala keputusan rio haruslah diambil dengan persetujuan para ninik mamak dari piak yang ada di dusun tersebut.

Suku Batin memiliki ciri khas dalam mendirikan bangunan tempat tinggal mereka. Persiapan pembangunan sebuah rumah baru dimulai pada saat lahirnya seorang puteri dalam keluarga tersebut. Rumah tersebut biasanya berbentuk bangsal dengan ukuran 9 x12 m dan biasanya juga dilengkapi dengan tempat penyimpanan hasil panen dan barang-barang pusaka. Bangunan itu biasanya dipenuhi dengan ukiran-ukiran dari kayu yang bermotifkan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Bangunan tempat tinggal suku Batin disebut dengan istilah Kajang Lako.

Hampir seluruh suku Batin memeluk agama Islam. Tetapi sebagian dari mereka masih memegang kepercayaan animisme, sihir dan berhala. Contohnya, wilayah Serampas merupakan tempat tinggal dari orang-orang yang memiliki sihir. Di sana ditemukan dua makam sakral dari dua wanita legenda yaitu Si Mata Empat dan Si Pahit Lidah. Kedua wanita ini dipercaya mewariskan kemampuan sihir atau supranatural mereka pada suku Batin.

Orang Batin suka hidup berpindah-pindah dan berjiwa gotong royong. Sifat gotong royong yang sangat menonjol juga terlihat di antara dua kampung yang berbeda. Hubungan antara kepala kampung yang satu dengan lainnya sangat baik.

Ada lima mata pencaharian utama suku Batin, yaitu bertani, berkebun, mengumpulkan hasil hutan, mendulang emas dan sebagai nelayan. Suku Batin bercocok tanam di ladang yang disebut dengan umo talang. Umo talang merupakan ladang yang dibuat di dalam hutan besar. Lokasi hutan yang dijadikan ladang jauh dari pedesaan, serta tidak terletak di pinggiran sungai. Ladang tersebut kemudian ditanami padi, palawija, karet dan kopi, di samping juga ditanami tanaman selingan. Lalu ladang yang sudah ditanami ditinggalkan.

Setelah itu ladang mereka akan tumbuh dan hidup berbagai macam tanaman keras, sehingga umo talang akan menjelma menjadi kebun karet, kebun durian, dan lainnya. Pada intinya, predikat kebun ditentukan oleh jenis tanaman utama yang hidup di atas sebidang tanah.


Galeri Gambar



Budaya Terkait