Kebudayaan Indonesia

Manabba, Cara Berburu Suku Talaud

babi.jpg

Kegiatan Berburu Babi Suku Talaud

Beberapa warga dari suku Talaud memilki mata pencaharian berburu, meskipun berburu bukanlah mata pencaharian utama (pokok) di Talaud. Selain dilakukan sebagai mata pencaharian, berburu juga dilakukan segai hobi atau kegemaran warga Talaud. Hal ini membuat berburu menjadi salah satu sistem mata pencaharian hidup yang cukup diperhitungkan.

Adapun beberapa hewan yang menjadi mangsa buruan suku Talaud adalah: sapi hutan, babi hutan, ungags, biawak, dan buaya. Hewan-hewan ini dilakukan di hutan sekunder, dibekas-bekas ladang yang sudah ditinggalkan, di tepi sungai dan juga di hutan rimba primer. Perburuan pun dilakuakn dengan menggunakan senjata sederhana, seperti tombak, parang, sumpit, pukat, dan alat tradisional lainnya yang berupa perangkap. Cara berburu yang paling terkenal di suku Talaud adalah Manabba.

Manabba adalah salah satu kegiatan berburu babi hutan dan sapi hutan yang dilakukan oleh kaum lelaki dewasa secara beramai-ramai di kepualauan Talaud. Perburuan dilakukan dalam waktu seharian penuh. Proses berburu pun tidak secara tiba-tiba, namun ada persiapan yang harus dilakukan sebelumnya.

Persiapan yang pertama sebelum melakukan Manabba adalah membuat panggung, maupun membuat rintangan-rintangan di sekeliling panggung. Panggung ini dibuat pada tempat-tempat tertentu. Seperti membuat panggung di pinggir suatu tebing yang terjal, di tepi sungai, dan di tepi pantai. Rintangan yang dibuat bermaksud untuk menarik perhatian hewan buruan. Terbuat dari pohon-pohon yang ditebang dan disimpan di sekitar panggung, rintangan ini memancing hewan buruan untuk menghampirinya. Jika hewan-hewan buruan tersebut berhasil melewati panggung, mereka akan masuk ke jurang, sungai, atau pantai sesuai dengan tempat buruan. Kemudian hewan buruan tersebut ditombak oleh para pemburu yang sudah bersiap di panggung.

Selain mempersiapkan alat yang dibutuhkan dalam berburu, sebelum melakukan perburuan juga dilakukan pembagian tugas yang dilakukan pagi hari sebelum berburu. Pertama dipilih kepala pemburuan, kepala ini dipilih biasanya berdasarkan keahlian dalam mengenal jejak binatang buruan, dan sedikitnya megetahui “dunia magic”. Selanjutnya dipilih pembantu yang mengepalai kelompok-kelompok kecil yang telah dibagi. Kemudian dipilihlah orang-orang yang pandai menggunakan tombak. Mereka inilah yang akan menduduki pohon-pohon atau panggung-panggung kecil yang telah dipersiapkan. Selain itu mereka juga bertugas untuk membunyikan suatu alat yang terbuat dari bambu dan diberi lubang, alat tersebut dinamakan tatingkoran, jika hewan buruan mereka telah berada di sekitar panggung.

Setelah itu, kawanan yang lainnya akan mengepung wilayah tersebut yang diperkirakan ditempati oleh binatang buruan. Setelah semua mengepung, selanjutnya mereka akan bersorak sambil menghalau hewan buruan mereka ke dalam wilayah panggung yang sudah dikelilingi rintangan. Jika hewan buruan mereka sudah melewati rintangan itu, hewan buruan mereka tidak akan bisa lari kemana-mana. Lalu berhasillah mereka melakukan perburuan saat itu.

Begitulah cara Manabba dilakukan. Perburuan tidak hanya menggunakan tenaga lelaki yang telah dewasa, mereka juga terkadang dibantu oleh anjing. Hasil buruan yang telah berhasil ditangkap, akan digabikan secara merata pada seluruh peserta perburuan ataupun warga sekitar.

 


Galeri Gambar



Budaya Terkait