Kebudayaan Indonesia

Ketika Suku Muyu Beternak Babi

KETIKA SUKU MUYU BETERNAK BABI2.jpg

Beternak adalah aspek lain dari ekonomi Muyu, Kab. Boven Digoel, Papua yang terkait dengan sistem keuangan. Tujuannya yang utama bukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri terhadap daging, tetapi untuk memperoleh uang kulit kerang atau alat tukar Suku Muyu yang dikenal dengan istilah Ot.

Pembagian peran dalam keluarga Suku Maya memosisikan kaum wanita yang mengurusi hewan ternaknya. Namun di Yibi seorang pria juga dapat mengerjakannya, dan di Tumutu bagi pria yang tidak mempunyai istri, ibu, atau saudara perempuan diperbolehkan mengurusi hewan ternak sendiri. Sementara bagi para jejaka sering menganggap diri mereka tidak layak untuk mengurusi hewan ternak.

Masyarakat Suku Muyu kebanyakan menjadikan babi sebagai hewan ternak. Karena dalam pesta babi, mereka akan mendapatkan Ot dengan membawa seekor babi. Rata-rata Suku Muyu tidak memelihara Babi dalam kandang, dan juga tidak di tempat yang dipagari. Mereka membiarkan babi ternak berkeliaran di sekitar rumah.

Untuk memungkinkan hal tersebut, anak babi dipelihara sedemikian rupa sehingga mereka terbiasa dengan rumah dan pemeliharanya, biasanya seorang wanita. Adalah hal yang sudah biasa atau lumrah bagi seorang wanita Suku Muyu menyusui anak babi, dan membawanya dalam noken ke kebun dan tempat menokok sagu, bahkan kalau mereka bepergian. Anak babi sering mengintil pemeliharanya seperti layaknya seekor anjing.

Dengan memberi makanan di dekat rumah, babi menjadi terbiasa: pagi hari babi diberi makan di luar, petang hari ditangkap dan dibawa masuk rumah, dan diberi makan pisang bakar, pada malam hari babi "tidur" dengan si wanita. Kepada babi yang lebih besar dilemparkan sagu bakar di bawah rumah. Dengan cara begitu binatang piaraan ini menjadi terikat kepada rumah dan pemeliharanya sehingga dapat dibiarkan berkeliaran bebas tanpa khawatir hilang.

Perlakuan yang seperti itu memberikan kesempatan bagi babi untuk mendapatkan protein dengan memakan segala macam serangga yang ada di dalam tanah. Salah satu alasan mengapa orang Muyu tidak mengandangkan babi ialah karena mereka tidak dapat memberinya protein.

Namun di sisi lain, babi yang berkeliaran mengancam tanaman kebun. Mereka sering merusak tanaman umbi khususnya. Oleh karena itu, umbi dipagari, kalau pisang tidak ada masalah. Dengan demikian, memelihara babi sama dengan memelihara biang keladi pertengkaran.

Kalau seekor babi merusak kebun orang lain, pemiliknya harus membunuhnya, atau membayar ganti rugi, atau membantu memagari kebun. Tidak sigapnya pemilik babi mengganti kerugian sering menimbulkan pertengkaran dengan yang dirugikan — dengan segala akibatnya yang menyulitkan. Maka, pemeliharaan babi itu menjadi faktor yang ikut menyebabkan lahirnya permukiman yang tersebar.

Masyarakat Suku Muyu pun mengenal bentuk kerja sama dalam hal pemeliharaan babi. Suatu keluarga inti dapat menyuruh kerabatnya untuk memelihara babi untuknya, dengan cara membeli babi dari kerabat — biasanya wanita — dan memintanya untuk sekalian memeliharanya. Kalau babi itu disembelih, si pemelihara akan mendapat bagian. Bahkan dalam Masyarakat Suku Muyu, akan didapati wanita-wanita tua yang memelihara babi untuk beberapa orang sebagai mata pencahariannya.


Galeri Gambar



Budaya Terkait