Kebijakan Baru Mendikbud Dorong Pengrajin Lokal untuk Terus Berkarya

0

239

Jakarta – Kini tiap sebulan dua kali tepatnya hariSelasa pada pekan pertama dan ketiga, seluruh jajaran karyawan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ada sedikit perbedaan. Karena mereka berpakaian adat yang dipadu padankan sendiri dengan pakaian atau aksesoris lainnya

Indonesia kita memang Raya. Sudah sering disebut bahwa pada kita ada lebih dari 300 suku bangsa, lebih dari 700 bahasa. Tapi itu bukan sekadar angka statistik penyemai decak kagum. Itu adalah ilustrasi kecil atas kebhinnekaan yang sesungguhnya. Di balik angka-angka itu adalah berjuta olah pikir, olah budi dan olah daya manusia Indonesia.

Hari Selasa ini kita merasakan kebhinnekaan itu. Kita semua, yang bertugas di Kemdikbud, mengekspresikan kebhinnekaan dalam pakaian adat. Pemandangan seperti ini memang sulit ditemukan padanannya di Indonesia. Bagaimana dalam sebuah kantor baik di pusat maupun di daerah, ditemukan pakaian adat, bukan hanya dari satu suku, tapi dari berbagai suku dari segala penjuru nusantara. Inilah salah satu wujud ber-Indonesia!

Walau yang terlihat mata di hari Selasa ada pesan kebhinekaan, sesungguhnya ada pesan penting dan utama dibalik berpakaian adat ini: mengembalikan pakaian adat menjadi pakaian kerja, pakaian keseharian.

Mari kita gaungkan pesan utama kita ini. Dan, karena itu mari kita berinovasi. Tugas kita bukan saja melestarikannya, tapi juga mengembangkan pakaian adat. Mari kita kembangkan pakaian adat menjadi pakaian yang nyaman untuk bekerja. Kita sama-sama jaga nilainya, kita tinggikan estetikanya, dan kita mudahkan penggunannya.

Kebijakan baru ini juga membawa dampak positif terhadap para pengrajin pakaian adat. Karena hampir semua pakaian adat adalah hasil keterampilan tangan-tangan pengrajin, penerus dan pengembang budaya. Keterampilan mereka itu sudah hidup bergenerasi-generasi, lintas dekade dan abad. Kini mereka makin mengecil jumlahnya. Bukan tidak mungkin pengrajin pakaian adat akan perlahan jadi amat langka jika karya-karyanya tidak dimanfaatkan, jika tidak cukup pasar untuk menyerap karya mereka.

Oleh karena itu, pasar yang menyerap hasil karya para pengrajin ini harus dibesarkan, harus ditumbuhkan. Dan satu hal yang pasti, saat kita memakai pakaian adat maka kita sedang ikut melakukan redistribusi kesejahteraan: dana untuk membeli pakaian itu tidak dikirimkan untuk baju pabrikan hasil padat modal, tapi dikirimkan untuk para pengrajin pakaian adat yang usahanya berskala ekonomi kecil atau amat kecil.

Bagi

Tentang Penulis

Komentar tertutup.