Mengenal ragam Hias Minangkabau

MENGENAL RAGAM HIAS MINANGKABAU1.jpg

SENI UKIR MINANGKABAU JUGA BERFUNGSI PENDIDIKAN DAN PEDOMAN BAGI MASYARAKAT MINANGKABAU

Daerah Minangkabau sudah lama dikenal karena keindahan alam dan Kebudayaannya. Sejauh ini hasil seni budaya Minangkabau yang banyak dikenal adalah mengenai arsitektur dan seni tarinya. Ragam hias Minangkabau sebagai bagian dari arsitekturnya tak kalah menarik untuk dikenal. Ragam hias ini diterapkan dalam bentuk seni ukir yang menghiasi hampir seluruh tubuh rumah adat Minangkabau. Tiap ukiran melambangkan ajaran dan pernah yang digambarkan secara tersirat, bahkan nyaris tak dikenali. Ada baiknya kalau kita mencoba untuk mengapresiasi seniukir tersebut.

Berbicara tentang ragam hias Minangkabau sama halnya dengan membicarakan tentang kehidupan dan perkembangan seni ukirnya. Seluruh motif ragam hias Minangkabau pada umumnya bersumber kepada motif-motif ukiran yang terdapat pada bangunan rumah adat atau rumah gadangnya. Ukiran yang terdapat pada bangunan rumah adat merupakan sumber dari segala perkembangan motif ukiran yang dikenal masyarakat sekarang. Motif ukiran Minangkabau yang sekarang mencapai jumlah ratusan merupakan perkembangan dari penghayatan dan kreasi baru para pengukir yang berpedoman kepada motif-motif yang terdapat di berbagai bangunan rumah adat. Motif-motif yang sudah ada dikembangkan secara bebas sesuai dengan kecakapan dan selera pengukirnya.

Ragam hias Minangkabau pada umumnya diterapkan sebagai ukiran pada bangunan adat seperti rumah Gadang atau Rumah Adat. Rangkiang, Balai Adat dan lain-lain. Pada perkembangan selanjutnya motif-motif ukiran tersebut mulai pula diterapkan pada bangunan-bangunan lainnya seperti pada bangunan perkantoran, bangunan pertokoan, mesjid, museum dan lain-lain. Dalam kehidupan sehari-hari motif ukiran tersebut dipakai sebagai motif hiasan/sulaman pakaian, motif ukir perabotan dan pada benda-benda pakai lainnya. Motif-motif itu dibuat dalam berbagai variasi bentuk, namun tetap berorientasi kepada bentuk motif yang asli.

Bentuk Dasar Ragam Hias Minangkabau
Sebagaimana juga halnya dengan cabang-cabang seni (seni rupa) yang lain, seni ukir Minangkabau berorientasi kepada alam. Seluruh motif ukiran yang diciptakan dikembalikan kepada sifat-sifat gejala dan bentuk alam. Kalau pada masa lampau pernah dikenal istilah "natura astist magistra", maka di Minangkabau dikenal juga pepatah yang mengatakan "alam takambang jadi guru, cancang taserak jadi ukia". Kata-kata tersebut mempunyai pengertian bahwa alam yang luas dapat dijadikan guru atau contoh/teladan dan setiap cercahan pahatan akan menjadi elemen ukiran yang bersifat menghias.

Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ragam hias, tidak diungkapkan secara realistis atau naturalistis, tetapi bentuk-bentuk alam tersebut digayakan (distilisasi) menjadi motif-motif dekoratif ornamentik.

Ditinjau nama-nama motif ragam hias yang terdapat di Minangkabau, dapat dilihat bahwa motif-motif tersebut bertitik tolak dari nama-nama benda yang terdapat di alam yang dapat dibagi ke alam tiga kelompok utama, yaitu: (1). Motif yang berasal dari nama/sifat tetumbuhan; (2). berasal dari nama-nama binatang; (3). berasal dari nama-nama benda (benda mati).

Nama-nama Motif Ragam Hias Minangkabau

  • Nama tetumbuhan

Sesuai dengan bentuk dasarnya, motif-motif ragam hias Minangkabau yang berasal dari nama-nama tumbuhan mencapai jumlah 37 nama/motif. Bentuk ragam hias yang berasal dari nama tetumbuhan ini pun sebetulnya tidak selamanya dapat disesuaikan dengan bentuk visual motifnya. Tidak selamanya motif itu mencerminkan bentuk yang sesuai dengan namanya.

Beberapa nama yang cukup menonjol dari sekian banyak motif ragam hias yang berasal dari nama tetumbuhan adalah: Aka Bapilin (Akar Berjalin), Aka Barayun (Akar Berayun), Aka Taranang (Akar Terapung), Bungo Palo (Bunga Pala), Bungo Matoari (Bunga Matahari), Kaluak Paku (Lengkung Pakis), Pucuak Rabuang (Pucuk Rebung) dan lain-lain.

  • Nama binatang

Nama-nama motif yang berasal dari nama binatang mencapai jumlah 21 motif, diambil dari nama-nama binatang yang terdapat di lingkungan daerah Minangkabau itu sendiri. Sebagaimana juga dengan nama-nama motif yang berasal dari nama tetumbuhan, pada motif yang berasal dari nama-nama hewan ini juga tak terlihat bentuk-bentuk binatang itu sendiri. Motifnya pun mirip dengan motif-motif yang berasal dari nama tetumbuhan. Motif-motif yang berasal dari nama hewan ini antara lain adalah: Ayam Mancotok dalam Kandang (Ayam mematuk di dalam kandang), Bada Mudiak (Ikan beriringan ke hulu), Barabah Mandi (Burung Berbali Mandi), Gajah Badorong (Gajah Berkelahi), Harimau dalam Parangkok (Harimau dalam Perangkap), Kaluang Bagayuik (Kelelawar Bergantung), Ramo-ramo (Kupu-kupu), Tupai Managun (Tupai Berbunyi), Kudo Manyipak (Kuda Menendang) dan lain-lain.

  • Nama benda dan Manusia

Nama-nama motif yang berasal dari nama benda (benda mati) antara lain adalah: Aie bapesong (air berputar) Ampiang Faserak (Emping Terserak), Ati-ati (bentuknya menyerupai hati), Carano Kanso (Cerana Tembaga), Jarek Takambung (Jerat Terpasang), Kipeh Cino (Kipas Cina), Saik Kalamai (Irisan Makanan) dan Saluak Laka (Alas Periuk). Jumlah motif ini mencapai 31 buah, diantaranya terdapat juga nama manusia seperti Ambun Dewi, Si Ganjua Lalai (nama gadis), si Kambang Maniih (Nama Gadis).

Arti yang Terkandung pada Motif Ragam Hias Minangkabau
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ragam hias Minangkabau mengambil motif dari bentuk, gejala dan sifat-sifat alam. Sifat meniru alam ini tidak saja berlaku bagi pengambilan motif-motif seni ukir, tetapi juga berlaku pada sendi-sendi kehidupan masyarakat. Sifat-sifat dan tingkah laku alam tersebut dituangkan pada kata-kata adat yang diajarkan turun temurun sebagai pengetahuan yang berguna bagi pengaturan kehidupan dan perilaku masyarakat. Salah satu pantun itu berbunyi sebagai berikut:

  1. Panakiak pisau sirauik
  2. Ambiak galah batang Lintabung
  3. Salodang ambiak ka nyiru.
  4. Nan Satitiak jadikan lauik
  5. Nan sakapa jadikan gunuang    
  6. Alam takambang jadikan guru
  7. Penakik pisau siraut
  8. Ambil galah batang Lintabung
  9. Selodang jadikan nyiru,
  10. Yang setetes jadikan laut,
  11. Yang sekepal jadikan gunung,
  12. Alam terkembang jadikan guru.

Pepatah tersebut mengisyaratkan kepada manusia agar selalu berusaha untuk menyelidiki menghayati dan mempelajari ketentuan-ketentuan dan kejadian-kejadian alam semesta sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang dapat dijadikan guru atau dapat diteladani.

Pada ragam hias Minangkabau, banyak motif ukiran yang dihubungkan dengan kata-kata adat yang mengatur perilaku kehidupan manusia. Para ahli ukir jaman dahulu agaknya berusaha untuk mengabadikan atau memvisualisasikan kata-kata adat tersebut kedalam bentuk-bentuk ukiran dengan harapan bahwa motif ukiran itu dapat menggugah dan mengingatkan para penikmatnya akan nasehat-nasehat yang terkandung di dalam motif itu.

Untuk dapat mengerti arti yang terkandung pada suatu motif tidaklah mudah. Penikmat sedikitnya haruslah juga memahami arti kata-kata adat yang terkandung di dalam motif ukiran itu. Apalagi motifnya sendiri sulit dikenal karena antara nama dan wujud visualnya tidak selalu mirip, tidak ditemukan wujud binatang pada motif bernama binatang, tidak ditemukan bentuk manusia pada motif bernama manusia. Hal ini agaknya berhubungan dengan adanya larangan agama untuk melukiskan makhluk hidup pada gambar maupun ukiran.

Ukiran atau ragam hias Minangkabau berdasarkan adat adalah pembawa pesan-pesan adat, bukan kemaun pribadi senimannya. Hal ini berlangsung ketat. Oleh sebab itu dikenal kata-kata: "Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah". Dengan demikian seni ukir atau ragam hias Minangkabau selain berfungsi sebagai elemen keindahan, juga berfungsi sebagai pendidik dan pedoman bagi masyarakat dengan perlambangan dan kata-kata adat yang dikandungnya.


Galeri Gambar



Budaya Terkait