Kebudayaan Indonesia

Keraton Yogyakarta

KERATON YOGYAKARTA1.jpg

SUMBER NILAI BUDAYA JAWA
Kalau kita memasuki keraton Yogyakarta, yang segera tampak adalah kesibukan para pengunjung dari berbagai daerah dan mancanegara. Para petugas pariwisata berbaur dengan kerabat dan "abdi dalem" keraton. Pakaian dan bahasa yang dipergunakan beraneka ragam. Ada seorang bapak (lebih tepat dipanggil kakek) dengan pakaian Jawa asli gaya Yogya berbahasa Inggris sangat lancar diseling bahasa Prancis atau Jerman dengan logat Belanda, ternyata pemandu wisata, tetapi ada yang berkulit putih, berambut putih, mata kehijauan tetapi lebih suka diajak ngomong Jawa. Pengunjung pun demikian sibuk karena banyak obyek penting dan langka seperti kereta kencana, tandu, gamelan, lukisan, berbagai pusaka, bagian-bagian bangunan dan lain-lain termasuk benda-benda cendera mata yang layak dibeli sebagai kenang-kenangan, tak sempat lagi menghayati makna dan nilai yang lebih dari keraton itu sendiri.

Keraton Yogya itu apa?
Pertanyaan itu sederhana tapi sulit dijawab sebab pengertiannya sangat luas. Dari segi pengertian kata, keraton (ke-ratu-an), tempat ratu, yang sering juga disebut kedaton (ke-datu-an). Sering disebut istana (stha: berdiri, berada, Sanskerta), sedangkan astana sering untuk menyebut tempat pemakaman. Masih ada istilah lain untuk bangunan serupa keraton itu, misalnya pura untuk istana Mangkunegara di Surakarta dan puri untuk istana (raja-raja) di Bali. Fungsi pokok keraton memang kediaman raja. Jadi keraton Yogyakarta berarti tempat raja (di) Yogyakarta. Bandingkan dengan: omah/emah/griah/wisma bagi orang kebanyakan. Tentang gria dan wisma, mungkin dari grha dan was (Sanskerta).

Berhubung raja dalam hal ini merupakan pemegang peran inti (central figur) dari seluruh pemerintahan dan masyarakat kerajaan, maka keraton juga menjadi pusat pemerintahan, pusat kebudayaan dan sumber nilai yang menjadi anutan masyarakat baik yang bersifat fisis, non fisis maupun metafisis. Keraton dan lingkup keraton adalah merupakan "ideal-type" masyarakat itu. Itulah mengapa "masyarakat Jawa" pada hari dan bulan "baik" berbondong-bondong dari desa ke "negara(i)" yakni kota (mantan) kerajaan itu untuk menyadap berbagai berkah nilai luhur yang sangat mereka yakini kebenarannya untuk memecahkan berbagai masalah hidup serta membina gagasan-gagasan dan perilaku mereka.
Bagi keraton Yogyakarta, disamping telah memenuhi fungsinya sebagai pusat kerajaan di masa lalu, masih ada nilai lebih yakni sebagai arena perjuangan kemerdekaan, tempat transformasi ilmu pengetahuan (pernah jadi sasana Universitas Gajah Mada) dan kini menjadi sasana budaya.

Keraton Yogya dalam Catatan Sejarah
Sejak kapan dan dimana mulai ada arsitektur yang disebut keraton tidak jelas, tetapi tentunya sejak ada raja (ratu) di Indonesia beberapa abad setelah tarikh Masehi. Bagaimana bentuknya, belum ada yang tahu. Berita Cina dari ± abad ke-7 menceritakan raja puteri Simo dari kerajaan Holing istananya indah menghadap ke laut, berlantai papan. Kemudian ± abad 8-9 banyak disebut keraton Medang dan yang terkenal adalah "Medang i Poh Pitu", yang mungkin terletak di desa Medari dekat Muntilan. Kemudian yang masih "mendingan" karena ada bekas-bekasnya adalah keraton Boko dengan pendopo yang berdinding dan berlantai batu alami terletak di sebelah selatan Prambanan, kini sedang dipugar oleh Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setelah pindah ke Jawa Timur, keratonnya juga tidak jelas. Bukti arkeologis hanya sisa-sisa fondasi di Kediri dan Trowulan yang belum dapat diidentifikasi dengan baik. Gambaran justru didapat dari sumber-sumber kesusasteraan. Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam awal dan pewaris tradisi Majapahit, bangunan keratonnya tidak kita ketahui kecuah masjid yang sudah dipugar dan bangunan pemakaman. Keraton-keraton yang sekarang masih ada di Jawa dan Madura dikenal umum sebagai penerus tradisi Majapahit yang sebenarnya tak diketahui lagi bentuknya itu. Keraton-keraton tadi (bahkan rumah-rumah kabupaten lama) memang mempunyai kesamaan pola dasar yang bersumber pada tradisi Majapahit yang langka bukti arkeologis itu.

Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I, telah memilih lokasi dan mulai membangun keraton Yogya di tempat yang sekarang ini. Bersama penasehatnya, yakni Tumenggung Honggowongso beliau membangun keraton dan kota Yogyakarta berdasarkan perhitungan dan cita-cita yang mendalam dan jauh menjangkau masa depan. Pembangunan keraton ini ditandai lengan pahatan dua naga yang berlilitan ekor sebagai "candrasengkala memet" berbunyi "dwi naga rasa tunggal" atau 1682 tarikh Jawa itau ± 1960 Masehi. Jadi umurnya sudah lebih dari 200 tahun. Selama itu sudah mengalami perkembangan dan perbaikan.

Arsitektur dan Bagian-bagian Bangunan
Walaupun perencanaan keraton sejak awal sudah menyeluruh tetapi pada awalnya masih sederhana dan baru bangunan inti yang mendapat perhatian khusus. Makin lama bangunan semakin kompleks, makin megah, makin indah, makin memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis, disamping itu juga memenuhi kebutuhan adat, simbolik, moral, religius, kesenian dan lain-lain sehingga merupakan gambaran totalitas kebesaran peradaban Jawa Klasik.

Bila kita ikuti denah keraton Yogya dari arah utara, maka berturut-turut kita dapatkan bagian bangunan sebagai berikut.

1.Alun-alun Utara (Lor).
"Alun-alun", ini berupa tanah lapang yang luas berbentuk empat persegi dikelilingi jalan; juga bagian tengah dipotong oleh jalan yang menghubungkan jalan raya Malioboro dengan bangunan keraton. Di tengah ada dua pohon beringin yang dikurung dengan pagar sehingga disebut "Waringin Kurung Sakembaran" masing-masing bernama Kyai Dewandaru dan "Kyai Janadaru". Keduanya mengandung arti simbolis-filosofis tertentu. Di sekeliling alun-alun juga ditanam 62 batang pohon beringin. Di sebelah barat alun-alun terdapat Masjid Agung dengan gaya bangunan Jawa. Gungsi alun-alun ini dahulu antara lain untuk latihan perang-perangan serta untuk berbagai upacara atau perayaan tradisonal. Sekarang secara periodik masih digunakan untuk arena "pasar malam", khususnya pada bulan Maulud.

2.Pagelaran
Berupa suatu bangunan besar, berbentuk empat persegi, tidak berdinding berbentuk "limas klabang nyander"". Pintu gerbangnya menghadap ke jalan tengah alun-alun, bergaya campuran Eropa-Jawa bermahkota segitiga (yang kedua sudut kikinya terpotong), sebagai tempat lambang kesultanan Yogyakarta. Di dalam bangunan ini terdapat bangsal-bangsal sebagai anak bangunan, yang terpenting dan terindah adalah "Bangsal Pangrawit" yang juga terbuka dan didalamnya terdapat "Sela Gilang".

3.Sitinggil
Sitinggil atau sitiinggil (tanah tinggi) memang merupakan halaman dan bangunan yang lantainya cukup tinggi sehingga untuk memasukinya dari arah utara (Pagelaran) melalui jalan berundak-undak (trap). Setelah melewati Tarub Agung kita sampai di "Bangsal Witana". Bila kita menengok kembali ke arah utara akan tampak kesibukan jalan Malioboro. Bangsal Wisata ini berbentuk "tajuk lambang gantung lawakan". Di "tratag" terdapat bangsal kecil bernama "Manguntur Tangkil". Bangsal Witana ini keindahannya mendekati sal Kencana" di bangunan pusat. Arsitektur dan hiasannya benar-benar tertib menurut aturan seni bangunan Jawa Klasik, agung, semarak, indah. Pada bangsal manguntur Tangkil ini sekarang dipajang boneka-boneka dalam bentuk adegan "pasowanan".

4.Kemandungan Lor (Keben)
Perjalanan kita lanjutkan melalui jalan berundak turun dari Sitinggil lewat pintu gerbang "Brajanala" yang berbentuk "Sinar pinondhong", sampailah di suatu halaman agak terbuka. Di tengah halaman terdapat "bangsal Panca Niti" bergaya "tajuk lambang gantung" tempat raja memeriksa terhukum yang dapat diancam hukuman mati. Di tengah bangsal lantainya lebih tinggi terdapat sela gilang tempat duduk raja. Hiasannya sangat bagus, di puncak atap terdapat hiasan nenas atau mahkota Dwarawati. Di halaman terdapat pohon "keben" yang bentuk buahnya banyak memberi inspirasi para seniman, sehingga pohon ini diangkat oleh pemerintah sebagai pohon perdamaian.

5.Kompleks Sri Manganti
Setelah melewati regol Sri Manganti kita sampai di halaman kompleks Sri Manganti yang memanjang dari barat ke timur. Di bagian timur terdapat bangsal berbentuk limasan dan disebut "Bangsal Trajumas". Di bagian barat ada bangunan "joglo" disebut "Bangsal Sri Manganti". Bangsal Trajumas yang berirama warna hijau itu dahulu untuk "pasowanan" pada "malam modidareni" bagi putera raja yang jadi penganten. Sekarang untuk tempat benda-benda perlengkapan keraton seperti "jempono" penganten, alat angkut yang disebut "plangki" dan lain-lain. Bangsal Sri Manganti dahulu untuk tempat menerima tamu sekaligus dengan acara tarian. Sekarang tempat perangkat gamelan. Bangsal-bangsal ini juga dihias sangat indah.
Sebelum kita pindah ke kompleks Bangsal Kencana kita akan melewati "regol Dana Pratapa" yang kanan dan kirinya dijaga oleh dua arca raksasa bernama Cingkarabala dan Bala Upata.

6.Pelataran Kedaton (Kompleks Halaman Keraton)
Setelah melewati regol Dana Pratapa sampailah kita di kompleks induk keraton. "Bangsal Kencana" dan "bangsal Prabayeksa" sebagai bangunan inti yang amat megah, dilengkapi secara fungsional dengan bangunan-bangunan lain. Di sebelah utara terdapat: Gedong Kuning, Purwaretna, Panti Sumbaga, Regol Dana Pratapa dan Gedong Parentah Ageng. Di bagian timur terdapat: Gedong Gangsa, Regol Gedong Sarangaya. Di sebelah selatan: Gedong Pateh Ageng, Regol Magangan dan Bangsal Manis. Di halaman, sebelah depan Bangsal Kencana terdapat sepasang Bangsal Kotak dan Bangsal Musik atau Bangsal Mandalasana.
Bangsal Kencana, bangunan induk amat megah, indah berbentuk "joglo mangkurat". Sebagai pendapa agung sampai sekarang untuk upacara-upacara besar. Dahulu untuk menerima tamu agung, tempat pagelaran wayang kulit. Suasana interiornya mewah dan berwibawa. Hiasannya merata dan rumit.

Di halaman yang ditata rapi beralas pasir ditanam secara teratur pohon "sawo kecik". Di sela-selanya terdapat lampu-lampu hias bergaya Eropa. Sebelum keluar, yakni ke kompleks Kemagangan kita lewat regol Kemagangan yang istimewa karena terdapat hiasan sengkala memet "dwi naga rasa tunggal" atau angka tahun 1682 Jawa.

7.Kemagangan
Di tengah halaman Kemagangan yang letaknya di belakang keraton itu terdapat bangunan besar tapi sederhana berbentuk "joglo wangun mandura" ditengahnya terdapat "watu gilang". Tempat ini untuk "pendadaran" calon prajurit.

8.Mandungan Kidul
Dari Kemagangan lewat "Regol Gadung Mlati" kita sampai di halaman yang tidak begitu luas. Di tengah berdiri bangsal sederhana berbentuk joglo kurang terawat. Bangunan ini diambil dari daerah Sukowati dan karenanya merupakan bangunan tertua di kompleks keraton Yogya. Pada waktu perang Giyanti, bangunan ini satu-satunya markas Pangeran Mangkubumi yang tak dibakar oleh musuh sehingga dari desa asalnya di Sukowati lalu diboyong ke keraton sebagai tonggak bangunan keraton Yogya; sayang kurang terawat.

9.Sitinggil Selatan
Bagian ini sudah berubah wajah. Yang ada sekarang bangunan baru sebagai tempat pertemuan biasa, tanpa keistimewaan apapun.

10. Alun-alun Selatan (Kidul)

Pelestarian dan Pendayagunaan
Setelah di Indonesia tidak ada lagi kerajaan, ratu dalam artian politik pun sudah tiada, tetapi keraton tetap merupakan monumen dan khazanah budaya yang sarat akan nilai-nilai luhur, bahkan masih tetap diupayakan sebagai salah satu pusat kegiatan budaya yang dapat dinikmati oleh semua orang, termasuk wisatawan asing. Oleh karena itulah perlu kita pikirkan dan upayakan bersama untuk membantu pelestariannya sesuai dengan bidang dan kemampuan kita masing-masing. Sekurang-kurangnya kita tidak bertangan jahil pada waktu mengunjunginya.


Galeri Gambar


Galeri Video



Budaya Terkait