Kebudayaan Indonesia

 Anyaman Tasikmalaya

SENI KERAJINAN TRADISIONAL DI JAWA BARAT
Nama Tasikmalaya terkenal dimana-mana berkat hasil karya masyarakatnya berupa kerajinan anyaman berbagai jenis keperluan perorangan atau rumah tangga dengan daerah penyebarannya yang cukup luas, bahkan sampai ke manca negara. Kerajinan anyam-anyaman merupakan ketrampilan seni dari khazanah budaya nenek moyang yang kita warisi dari generasi ke generasi. Gerabah dari masa bercocok tanam awal, beberapa ribu tahun sebelum tarikh Masehi sudah banyak yang dihias dengan motif anyaman. Sejak masa itu terus ditambah, dimotifikasi serta diperbaharui secara kreatif oleh para seniman pengrajinannya sesuai keperluan dan cita rasa zamannya. Seni kerajinan anyaman Tasikmalaya pun mengalami proses serupa itu.

Tasikmalaya adalah sebuah Kota Administratip dan Kabupaten di Jawa Barat bagian Timur. Di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Garut, sebelah utara Kabupaten Majalengka, sebelah timur Kabupaten Ciamis dan Samudera Hindia di sebelah selatan. Para pengrajin itu terutama terdapat di kecamatan Rajapolah, ± 17 km dari Kota Tasikmalaya.

Siapa seniman-pengrajinnya ?
Sudah menjadi kebiasaan bahwa hampir semua penduduk laki-laki dalam usia kerja di kecamatan Rajapolah merantau mencari nafkah di luar Tasikmalaya, seperti Bandung, Jakarta, Surabaya dan bahkan hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Kebanyakan di antara mereka berdagang barang-barang keperluan sehari-hari secara kecil-kecilan dengan sistim angsuran (kredit). Secara tekun hasilnya dikumpulkan dan kira-kira seminggu dalam tiga bulan mereka pulang untuk berkumpul bersama keluarga sambil membawa nafkah hasil kerjanya untuk membiayai keperluan keluarganya.

Jadi praktis di wilayah ini tidak ada lelaki, kecuali yang masih kecil, sudah lanjut usia atau usia kerja tetapi kurang sehat. Pendek kata yang pegang peranan sehari-hari dalam kehidupan di desa-desa itu adalah wanita. Wanita yang ditinggalkan oleh para suami, orang tua atau saudara laki-lakinya merantau mencari nafkah. Waktu menanti kedatangan suami, ayah, saudara laki-laki atau sang kekasih ini mereka pergunakan sebaik-baiknya untuk membuat seni kerajinan anyaman. Dengan demikian beberapa keperluan terpenuhi. Kreativitas dan cita rasa seni tersalur. Nafkah bertambah bagi keluarganya dan istilah kesepian terhapus dari kamus kehidupan keluarga. Dampak positif dirasakan pula bagi masyarakat luas. Penghasil bahan, pekerja, pedagang, usaha angkutan, bahkan exportir dan lain-lain kebagian kegiatan dan rezeki, lapangan kerja bagi banyak fihak. Seni kerajinan Tasik yang terkenal itu adalah hasil karya kaum Ibu.

Riwayat
Salah satu cerita tentang awal kegiatan pengrajin di daerah ini adalah demikian. Pada awal abad ini di Kecamatan Rajapolah ada seorang mulik (kyai) bernama Haji Yasin. Dalam waktu senggang di samping mengajar agama, Haji Yasin mengajarkan kepandaian kerajinan anyaman kepada para santri muridnya. Hasilnya berupa topi-topi anyaman dijual di Stasiun kereta api Tasikmalaya. Seorang penumpang kereta api bernama Tuan Vercizak dari Eropa turun di Stasiun Tasik, setelah mengamati topi-topi yang dijual kemudian menemui Haji Yasin si pembuat topi. Dalam pembicaraan tercapai kata sepakat Haji Yasin akan membuat topi sebanyak mungkin untuk dikirim ke tuan Vercizonk, kemudian terjadilah hubungan dagang antara kedua belah pihak.

Tertarik akan keberhasilan Haji Yasin, penduduk beramai-ramai menjadi pangrajin topi yang selanjutnya berkembang menjadi beraneka ragam, jenis anyaman. Masyarakat semakin makmur berkat hasil anyaman.

Barang-barang yang Dihasilkan
Jenis produksinya mula-mula terbatas pada topi, dompet dan tikar, tetapi makin lama makin bervariasi.

  • Benda-benda keperluan rumah tangga.
  1. Perlengkapan makan dan minum (dinner set): alas piring, alas gelas, alat penahan panas, dan lain-lain.
  2. Berbagai wadah penyimpanan kue-kue.
  3. Tempat sampah, dan lain-lain.
  • Benda-benda hiasan/pajangan.
  1. Kap lampu dengan pelbagai hiasan.
  2. Hiasan dinding.
  3. Tudung-tudung hiasan.
  4. Jambangan bunga, dan, lain-lain.
  • Alat pelindung tubuh.
  1. Berbagai macam topi.
  2. Payung dengan bermacam-macam bentuk dan fungsinya.
  • Berbagai barang untuk keperluan di lantai.
  1. Sejenis tikar dalam pelbagai ukuran bentuk dan hiasannya, untuk pelbagai keperluan seperti tempat duduk, sembahyang, dan lain-lain.
  • Tas, dompet, sandal, dan lain-lain.

Bahan
Bahan baku untuk pelbagai anyaman itu bermacam-macam seperti sejenis pandan, bambu, kadang-kadang juga rotan,

  1. Daun panama, yakni sejenis pandan yang kualitasnya paling baik.
  2. Daun jaksi, sejenis pandan pula yang kwalitasnya
  3. Daun pandan duri biasa, yang paling mudah didapat tetapi, kualitasnya paling rendah.

Upaya Pelestarian.
Usaha-usaha dibidang produksi tradisional semacam ini sekarang memang menghadapi tantangan-tantangan berat, terutama karena makin menyempitnya pasaran dan persaingan dengan produksi benda sejenis yang bahannya lebih kuat dan lebih tahan lama, seperti misalnya barang-barang plastik. Tetapi mengingat kemanfaatannya begitu banyak seperti pelestarian warisan budaya, memberi lapangan kerja, penambah kemakmuran, menjadi daya tarik wisata-budaya dan lain-lain, merupakan kewajiban kita semua untuk ikut memperhatikannya, antara lain dengan upaya peningkatan mutu, peningkatan kreativitas mengimbangi selera pemakai, meningkatkan bahan dan teknologinya dan lain-lain sehingga tetap mendapat pasaran yang memadai.

Pemerintah juga para seniman dan pemilik modal kiranya dapat bahu-membahu membantu para seniman/pengrajin anyaman ini agar dapat berkelanjutan dan terus kita wariskan kepada generasi mendatang.


Galeri Gambar



Budaya Terkait