Kebudayaan Indonesia

Kondisi Alam Suku Muyu, Papua

KONDISI ALAM SUKU MUYU, PAPUA3.jpg

Daerah Suku Muyusecara demografis terletak di dalam zona kaki gunung dan lembah-lembah kecil, meliputi daerah Sentani, Nimboran, dan Ayamaru. Onderafdeling Muyu itu adalah sebidang tanah sempit, hampir bujur sangkar, di sepanjang batas Papua Nugini.

Onderafdeling Muyu adalah daerah peralihan antara tanah datar di pantai dan daerah pengunungan tengah. Di selatan tanahnya datar, dan di dekat Sungai Fly ada rawa-rawa luas. Di antara pertemuan Sungai Muyu dan Kao dan garis lintang Mindiptana, tanah yang landai menjadi berbukit-bukit dan terjal. Sedikit demi sedikit tanahnya bertambah tinggi dari sekitar 100 m sampai kira-kira 700 m di atas permukaan laut.

Ciri iklimnya ialah curah hujan yang tinggi. Angka tertinggi di Irian Barat tercatat di Ninati. Bukit barisan tengah mempunyai pengaruh yang dominan atas curah hujan. Di satu pihak, dari arah datangnya angin, pegunungan itu mempunyai dampak menghalau yang memaksa angin naik dan uapnya berkondensasi menjadi hujan. Di lain pihak, di bawah angin, badai guntur yang disebabkan oleh naiknya angin secara lokal di pegunungan, terbawa oleh angin ke dataran rendah, yang menyebabkan turunnya hujan di petang hari.

Angin yang dipaksa naik menimbulkan musim kemarau, yang di Merauke masih sangat kering, tetapi berubah sifatnya sewaktu mendekati pegunungan, dan selepas daerah peralihan Digul, menjadi pembawa hujan yang terpenting.

Aliran daerah dataran rendah Sungai Iwur, Membuat daerah Suku Muyu menjadi berbukit-bukit, dan banyak tempat sukar dilalui. Untuk daerah antara Mindiptana dan Sungai Iwur aliran sungai-sungai besar merupakan sarana perhubungan yang penting, menjadi "sarana transportasi" alam di daerah yang terbelah-belah oleh sungai itu.

Di antara orang Muyu, setiap sungai agak penting mempunyai namanya sendiri. Karena penduduk selalu menggunakan aliran-aliran sungai besar. Seperti halnya penandaan nama jalan di suatu daerah sebagai alamat. Khususnya yang penting dalam hal ini ialah aliran-aliran sungai besar antara Sungai Digul dan Kao, antara Sungai Kao dan Oga, antara Sungai Kao dan Muyu, dan akhirnya antara Sungai Digul dan Fly. Sungai-sungai itu praktis mengalir dari utara ke selatan.

Sungai Digul Timur mengalir melalui bagian barat laut dari onderafdeling itu dan Sungai Fly melalui bagian tenggaranya. Anak Sungai Digul Timur terpenting yang mengalir di onderafdeling ini ialah Sungai Iwur. Sungai Birim, anak sungai dari Sungai Terry (Tedi) atau Sungai Alice mengalir melalui bagian timur laut dari bekas onderafdeling itu. Dan Sungai Terry bermuara di Sungai Fly.

Untuk orang Muyu hanya sungai-sungai Kao, Muyu, dan Fly yang penting untuk lalu lintas air. Sampai Mindiptana, Sungai Kao dapat ditempuh dengan perahu motor. Karena arusnya yang kuat dan banyaknya jeram, sesudah Woropko dan Ninati, dari tempat itu Sungai Kao dan Muyu tidak dapat dilalui lagi. Di daerah itu penduduk menggunakan jembatan gantung dari rotan.

Berbeda dengan daerah rawa-rawa di bagian selatan, seluruh daerah itu tertutup oleh hutan. Batang-batang pohonnya relatif ramping, akar-akarnya biasanya tidak tertanam lebih dalam dari 30—50 cm. Pohon-pohon besar tidak tahan terhadap angin besar. Semak-semak di bawah pohon di hutan kurus-kurus dan jarang sehingga relatif mudah diatasi.

Di daerah antara Sungai Kao dan Muyu, di sebelah selatan dari garis Woropko-Komera, tidak terdapat banyak garam penyubur tanaman pada tanah liat kuning dan cokelat kekuning-kuningan yang terdapat di hampir seluruh daerah itu. Begitu juga pada lumpur tanah liat yang berwarna seperti berangan (chestnut) di sepanjang Sungai Kao antara Mindiptana dan Amburan.

Keadaan tanah yang seperti itu mengasumsikan bahwa satu-satunya bagian dari daerah itu yang cocok untuk pertanian ialah tanah berpasir di bantaran-bantaran di sepanjang Sungai Kao dan Muyu. Namun bantaran-bantaran itu setiap tahun selama beberapa bulan selalu tergenang air.

Akibat dari curah hujan yang tinggi: garam-garam penyubur hanyut dari tanah; jika di daerah yang bergunung-gunung itu hujan memperbesar kemungkinan erosi. Ringkas kata, daerah Muyu tidak banyak memberi harapan untuk mengadakan pertanian di daerah yang luas.

Beberapa faktor di atas menyebabkan terjadinya orientasi nilai budaya masyarakat Suku Muyu sebagai bentuk penyesuaian terhadap tekanan-tekanan ekologis seperti keadaan iklim, musim, kesuburan tanah, persediaan sumber-sumber daya, dan sumber-sumber pendukung seperti air dan lain-lain.


Galeri Gambar



Budaya Terkait