Tradisi Penguburan Kedua

TRADISI UPACARA PENGUBURAN KEDUA

Dalam sejumlah kelompok masyarakat di Nusantara, nyanyian kubur bagi yang mati dan puisi pujian tentang hubungan antara lehuhur dengan manusia, masih sering dipraktikkan hingga kini, dan hal tersebut menerangkan  pada kita bahwa leluhur serta berkahnya menempati posisi paling agung dan sakral dalam kehidupan sosial mereka—seperti mereka menempatkan upacara yang berkaitan dengan daur pertanian.

Ada yang unik dalam hal kepercayaan terhadap jasad orang mati di antara masyarakat tradisional Nusantara. Mereka percaya bahwa kematian bukanlah sebatas perginya roh dari jasad dan maka itu harus dikubur lalu selesai. Kematian bagi mereka adalah sebuah perjalanan gaib si mati di mana perjalannya itu harus dibantu oleh sanak-keluarga yang masih hidup agar roh si mati kelak bisa bergabung dengan roh-roh leluhur di “dunia atas” sana. 

Tujuan upacara (apa pun) bagi masyarakat tradisonal adalah pencapaian keserasian dengan alam dan arwah leluhur serta guna meningkatkan derajat kesejahteraan. Juga dalam hubunganya dengan upacara penguburan. Upacara penguburan ini ada dua macam, yaitu penguburan sekali dan penguburan kedua. Untuk penguburan sekali, di mana si mayat dikubur atau dibakar atau disimpan di sebuah tempat khusus (peti kubur, sarkofagus, dan sejenisnya), sering kita saksikan sendiri. Namun, untuk jenis penguburan kedua, di mana setelah melalui penguburan pertama tulang belulang mayat diambil kembali untuk disimpan di sebuah tempat khusus dengan upacara yang tak kalah besar pula, pengetahuan kita masih gelap.


Tradisi penguburan kedua hingga kini masih terdapat dalam, misalnya, masyarakat Toba di Sumatra Utara dan masyarakat Ngaju juga Ot Danum di Dayak.

Markondang di Tapanuli


Penghormatan terhadap arwah leluhur dapat dilihat pada masyarakat Tapanuli di Danau Toba. Masyarakat bersangkutan melakukan upacara pemakaman yang disebut markondang, yakni upacara yang dilakukan pada saat mayat yang telah dikubur, digali kembali untuk dimasukkan ke dalam peti batu. Jadi markondang ini merupakan acara penguburan kedua.


Pembongkaran dan pemasukan kembali tulang jenazah ke dalam peti batu (sekarang kuburan semen), selalu disertai upacara dan pemotongan hewan kurban diiringi tabuhan genderang. Sebelum dimasukkan dalam peti batu, tulang belulang dibersihkan dahulu dandibungkus oleh kain ulos sibolang. Ulos sibolang adalah jenis kain ulos bewarna biru tua dan biru muda, juga dikenakan pada wanita yang telah ditinggal suami. Kain ulos (dibedakan atas ragam hias, ukuran, serta cara pemakaiannya) merupakan sarana pengantar orang mati ke alam berikutnya. Ada pula yang menyebutkan bahwa kain pembungkus mayat adalah ulos ragihotang (berlatar warna cokelat tua dengan hiasan garis-garis halus berwarna putih).  Ulos ragihotang digunakan sebagai pembungkus jenazah pada upacara penguburan pertama, juga pembungkus tulang-belulang pada upacara penguburan kedua kali. Kain ini juga dipakaikan pada orang yang dianggap “perlu diluruskan”, supaya Tuhan membuatnya menjadi orang yang rajin bekerja. Ulos ragihotang juga bisa dikenakan oleh orang yang sudah menikah (bagi laki-laki sebagai selendang bahu, bagi perempuan sebagai penutup dada atau pakaian bagian bawah).

 

Kain ulos bagi orang Batak khususnya Danau Toba merupakan pelindung yang bersifat sakral dan pengantar kekuatan gaib. Selain berkaitan dengan upacara kematian, kain ulos dipercaya dapat melindungi pengantin baru dan mendatangkan rezeki; ia dikenakan pada pengantin baru di mana akan menjamin kesuburan dan kebahagian di kemudian hari. Pada proses ijab-kabul, ulos—yang ditenun oleh wanita dan dicelup warna yang berkaitan dengan kesuburam wanita—merupakan hadiah penting sebagai tanda restu keluarga pemberi-istri (pihak mempelai wanita atau Hula Hula) kepada anak gadis bersangkutan beserta suaminya. Ada pun keluarga penerima istri (pihak mempelai pria atau Boru) menyampai pujian dan ucapan terima kasih atas pihak pemberi istri. 

Tiwah di Ngaju

Orang Dayak di Kalimantan percaya bahwa ketika mati, jiwa seseorang harus pergi ke dunia kematian; jika tidak akan membuat masalah bagi yang hidup. Maka dari itu harus dilakukan sesuatu setelah kematiannya, yakni dengan melaksanakan upacara tertentu. Upacara ini dimaksudkan untuk memastikan jiwa mencapai tujuan dan agar keseimbangan alam yang terganggu oleh kematian dapat pulih.


Ada dua jenis pemakaman yang mendasar dalam suku-suku Dayak. Jenis pertama terdapat dalam masyarakat Modang, Kayan, dan Iban yang hanya melakukan satu kali upacara penguburan. Jenis kedua terdapat pada masyarakat Ngaju dan Ot Danum yang melakukan pemakaman kedua.


Pada prosesi pemakaman kedua, mayat disimpan sebentar setelah kematian, kemudian kerangka digali lalu dibersihkan untuk kemudian dipindahkan ke tempat peristirahatan terakhir. Dalam setiap jenis penguburan, mayat diperlakukan dengan berbagai cara: dimasukkan ke dalam keranda atau guci atau dibungkus dengan tikar; dikubur, diabukan, atau disimpan dalam kubur besar, indah, dan tinggi yang disebut sandong.


Kubur besar atau rumah kubur merupakan tempat penyimpanan jenazah pada akhir upacara penguburan kedua, yang dilaksanakan beberapa tahun setelah orang bersangkutan meninggal. Rumah kubur ini di beberapa tempat seperti di Long Wai bentuknya mirip rumah asli yang tinggi. Ujung atap diberi dua kepala naga dengan lidah menjulur, kadang-kadang dikaitkan dengan halilintar. Naga dikaitkan dengan dunia bawah, kemudian yang meninggal diantar ke dunia akhir, dan dengan cara itu seseorang dapat terlahir kembali. Ragam hias naga melingkar juga ditorekkan pada permukaan dinding.

Upacara tiwah dilaksanakan cukup lama, yaitu selama sebulan. Upacara ini dapat dilaksanakan secara gotong royong dan melibatkan banyak orang tanpa membedakan status sosial. Semakin banyak keluarga yang terlibat dalam tiwah semakin ringan biaya yang harus ditanggung keluarga yang berduka. Dan sebagaimana kehidupan masyarakat tradisional, dalam tiwah pun tersaji sesajen dan tarian sakral yang disebut manganjan. Ada pula sebuah patung yang diikat (sapundu), yang akan ditombak oleh ahli waris pihak kelurga yang melaksanakan tiwah.


Upacara tiwah merupakan sarana perhubung antara si hidup dengan si mati dan dunia roh. Ia berfungsi menghantarkan Telu Liau (tiga liau) Kelewu Tatau sesuai dengan pesan suci Tuhan kepada utus (keturunan) Maha Taja Banu (mengenai liau akan dibahas kemudian). Tiwah juga berfungsi sebagai penyucian bagi mereka yang ditinggalkan (tarantang nule) dalam menghantarkan Lewu Kelewu Tatau dengan simbol upacara Hanteran Basir Munduk dan Ngarahang Tulang. Hantaran dilaksanakan oleh Dukung Handepang Telun.

Balai nyahu adalah balai tempat dilaksanakan tiwah. Sejak malam balai nyahu telah ramai dikunjungi oleh anggota keluarga yang akan melaksanakan tiwah. Pada saat pelaksaan tiwah terdapat pali atau pantangan (bandingkan dengan kata pamali atau pemali yang banyak dipakai dalam etnis lain) yang wajib dipatuhi oleh peserta tiwah dan pengunjung dan pali tersebut ditempel di balai nyahu, sehingga siapa pun yang datang dapat membacanya.

Ada pun balian adalah tujuh orang yang bertugas melakukan pekerjaan Sang Hiang atau Sangiang guna memindahkan arwah yang sudah meninggal kembali ke alam rahim ibu.

Pada malam hari, acara puncak dalam upacara, basir (semacam ulama) telah duduk berjajar di tempat yang disiapkan. Sebelum upacara dimulai, basir diberi ikatan tangan agar mereka memiliki kekuatan ketika dirasuki Sang Hiang Langit dan diletakkan gong di alas kakinya. Mereka melaksanakan upacara hingga pagi dengan menggunakan bahasa Sang Hiang. Sementara itu basir mundu berjalan mengelilingi hewan yang akan dikorbankan, dengan maksud meluruskan roh tulang dan roh daging kepada Sang Hiang.

Balai nyahu adalah balai tempat dilaksanakan tiwah. Sejak malam balai nyahu telah ramai dikunjungi oleh anggota keluarga yang akan melaksanakan tiwah. Pada saat pelaksaan tiwah terdapat pali atau pantangan (bandingkan dengan kata pamali atau pemali yang banyak dipakai dalam etnis lain) yang wajib dipatuhi oleh peserta tiwah dan pengunjung dan pali tersebut ditempel di balai nyahu, sehingga siapa pun yang datang dapat membacanya.


Ada pun balian adalah tujuh orang yang bertugas melakukan pekerjaan Sang Hiang atau Sangiang guna memindahkan arwah yang sudah meninggal kembali ke alam rahim ibu.
Pada malam hari, acara puncak dalam upacara, basir (semacam ulama) telah duduk berjajar di tempat yang disiapkan. Sebelum upacara dimulai, basir diberi ikatan tangan agar mereka memiliki kekuatan ketika dirasuki Sang Hiang Langit dan diletakkan gong di alas kakinya.

Mereka melaksanakan upacara hingga pagi dengan menggunakan bahasa Sang Hiang. Sementara itu basir mundu berjalan mengelilingi hewan yang akan dikorbankan, dengan maksud meluruskan roh tulang dan roh daging kepada Sang Hiang.


Tiwah terdiri atas serangkaian upacara, masing-masing dengan tujuan khusus. Seperti mengundang roh dari dunia atas untuk bergabung dalam perayaan, atau menjamin orang yang masih hidup terjaga aman selama upacara yang berkemungkinan menimbulkan bahaya. Pada upacara ini, sejumlah hewan dikurbankan dan persembahan atau sesajen diberikan untuk orang yang mati dan kepada roh yang diundang ke upacara tiwah

Puncak tiwah terletak pada upacara tempat liau bersatu diantar oleh pendorong semangat Sangiang yang bernama Rawing Tempun Telun ke Lewu Liau. Selama upacara yang berlangsung semalam suntuk, ahli yang disebut tukang hanteran “ahli pengantar (orang mati)” membiarkan Sangiang Rawing Tempun Telun menguasai dirinya. Kata-kata dan tindakan tukang hanteran pada saat itu dipandang sebagai keberadaan Sangiang.


Pada akhir upacara, tukang hanteran diharuskan menceritakan seluruh kisah nenek moyang orang Ngaju selama semalam suntuk. Tujuan penceritaan mitos adalah untuk mengurutkan kembali kekacauan yang datang bila seseorang meninggal.

Orang Ngaju meyakini bahwa kematian mengakibatkan ketidakaturan dan kerusakan alam, yang harus diciptakan kembali agar hidup terus berlangsung. Oleh karena itu, penceritaan kisah penciptaan bukan kisah yang mudah diceritakan untuk menghibur pendengarnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Kata-kata pendorong semangat membawa penciptaan kembali; dengan begitu dunia dibuat menjadi baru pada setiap tiwah.

Ada satu hal yang unik, bahwa tiwah dapat dilaksanakan oleh umat dari agama lain namun tetap mengikuti tata cara masyarakat Hindu Kaharingan. Keluarga Muslim atau Kristen dapat ikut melakukan tiwah atau meniwahkan keluarganya yang lain yang pemeluk Kaharingan. 

Liau dan Lewu Liau

Masyarakat Dayak-Ngaju memandang bahwa manusia hidup terdiri atas jasmani atau jasad yang dihidupkan oleh jiwa atau roh yang disebut hambaruan. Kematian terjadi saat hambaruan atau roh meninggalkan jasad untuk selamanya dan dengan begitu keberadaannya berakhir sudah. Setelah itu jiwa diisi dengan sesuatu yang disebut liau, yang digambarkan sebagai “roh” mayat tersebut. 

Liau dibagi dalam tiga bagian: 
  • liau yang bersatu dengan tulang;
  • bagian tubuh yang berasal dari ayah dikaitkan denan dunia-atas dan dewa laki-laki dunia-atas; 
  • liau yang bersatu dengan daging dan darah, dianggap berasal dari ibu dan dikaitkan dengan dunia-bawah dan dewa perempuan dunia-bawah. Segi-segi liau itu tinggal bersama dengan jasad. Tempat tinggalnya berada hingga tiwah, di dunia-bawah. Tiwah sendiri berkaitan dengan nasib akhir jasad dan roh manusia. 

Unsur ketiga liau, yang digambarkan sebagai “roh kecerdasan”, kemungkinan merupakan ancaman bagi orang yang masih hidup, maka dari itu harus didamaikan. Pada upacara yang disebut tantulak liau (mengusir jiwa yang mati), dukun Ngaju (disebut basir) memanggil salah satu roh dari dunia-atas (atau Sangiang) untuk mengantarkan liau ke desa di surga ketiga. Di sini liau harus tinggal sampai tiwah.


Perjalanan terakhir liau berada di tiwah, tempat ketiga unsur liau (jiwa orang mati). Liau bersatu kembali di bumi untuk terakhir kali sebelum diantar pergi ke Lewu Liau, “dunia kematian”.

Guci Kubur

Selain diletakkan pada peti jenazah kayu yang berat, mayat kadangkala diletakkan dalam guci besar. Untuk memasukkan mayat, guci dipotong di bagian bahu dan mayat dimasukkan dengan lutut menempel di bawah dagu. Guci yang lebih kecil yang digunakan untuk menyimpan tulang orang yang sudah lama mati, dibuka dan dibersihkan pada upacara kedua. Guci ini biasanya sangat mahal dan berasal dari Cina.



Galeri Gambar



Budaya Terkait