Kebudayaan Indonesia

 Perahu Madura

CINTA BAHARI YANG TERTUANG DALAM TEKNOLOGI DAN SENI TRADISIONAL

Tidak dapat disangkal Indonesia adalah bangsa bahari, bangsa yang cinta samudera sejak dahulu kala. Sejak masa prasejarah bangsa kita telah bertebaran pada beribu-ribu pulau di Nusantara ini. Sarana perhubungan antara satu pulau dengan pulau yang lain adalah perahu. Kepandaian berlayar dan membuat perahu sudah dimulai sejak za¬man prasejarah dan berlanjut hingga sekarang. Dinding-dinding gua pemukiman massa prasejarah banyak dihiasi lukisan perahu, kemu¬dian relief-relief candi pada masa Klasik banyak menggambarkan pelayaran di Samudera dengan perahu layar bercadik.

Sekarang, berbagai daerah masih mampu membuat perahu-perahu tradisional yang hasilnya masih mengagumkan bagi dunia pelayaran, misalnya Sulawesi Selatan dengan perahu pinisinya, daerah sepanjang pantai utara Jawa terutama Tegal, berbagai daerah di Pulau Madura dan sekitarnya dan lain-lain. Semua menghasilkan perahu-perahu tra¬disional untuk pelayaran lokal, antar pulau maupun antar bangsa. Walaupun fungsionalnya sama, tiap daerah itu mempunyai bentuk, gaya teknis dan citarasa seni sendiri-sendiri sehingga dapat dibedakan antara satu dengan lainnya.

Perahu Madura
Apakah disebut demikian karena buatan orang Madura, atau ka¬rena dibuat di daerah Madura atau karena pemakainya orang Ma¬dura?

Memang lebih mudah menunjuk bahwa yang itu perahu Madura dan yang lain bukan bila kita berada di suatu pelabuhan dimana banyak perahu bersandar, daripada kita harus menjawab pertanyaan seperti tersebut di atas. Sebagai ancar-ancar tidak ada salahnya kita coba memberi keterangan bahwa perahu Madura adalah berbagai jenis perahu tradisional yang mempunyai bentuk, gaya, teknis, seni, warna dan lain-lain yang khas Madura sebab kemampuan dan ketrampilan membuat perahu ini secara turun-menurun diwarisi dan dikem¬bangkan ditengah-tengah kehidupan masyarakat Madura dengan ber-bagai aspeknya. Jadi pembuatan maupun fungsinya telah menyatu dengan kehidupan masyarakat Madura.

Yang dimaksud perahu disini semua jenis, besar maupun kecil, didayung atau memakai layar dapat berupa jukung, sampan atau perahu besar, tetapi bukan rakit. Ciri-ciri kemaduraan itu yang segera dapat dilihat adalah pada "lokeran" atau "cetongan". Kecuali pe¬ngertian umum itu di Madura ada istilah khusus bagi "parao Madura' an yakni yang ber-"lenggi" lebar dengan ornamen dan "andangari" yang khas.

Di setiap kabupaten terdapat pembuat perahu, bahkan dalam sa¬tu kabupaten terdapat beberapa kota atau desa yang membuat pe¬rahu.

Bentuk Perahu Madura
Bentuk-bentuk perahu Madura banyak jenisnya, sekurang-kurang¬nya ada 37 macam dari bentuk yang sederhana sampai yang kom¬pleks. Dari 37 macam dapat dibagi menurut katagori: jukung 13 ma¬cam, sampan 14 macam, perahu delapan macam dan perahu besar dua macam.

Nama-nama dari 37 macam itu: jukung pajangan, jukung gambringan, jukung pagar, jukung kateran, jukung tiga roda, jukung lajangan, jukung tengkongan, sampan kateran Legung, sampan petetedan, sampan pate, sampan polangan, jukung monte, perahu karoman, sampan pajala'an, sampan calepag, sampan les-ales, sampan patete, sampan jepitan, sampan pakesan, sampan jaring-panjaringan, sampan sekoci, sampan tambangan, sampan pandan, sampan kursin, sampan bantingan, sampan conet, sampan kelele'an, perahu padduwang, parao kaci, parao pajangan Madura'an, parao g'alate, parao lete' gole'an, perahu pegon, parao janggolan, kalatok, ketinting dan lambud.

Pembuatan Perahu
Peristiwa pembuatan perahu di Madura merupakan suatu peris¬tiwa penting dalam kehidupan sebab perlu mengikuti aturan-aturan tertentu. Adapun urutan kegiatannya:

  • Mempersiapkan bahan terutama kayu. Bak jenis, bentuk maupun ukuran kayu serba terpilih. Ada di antaranya yang dilarang/ pantang digunakan sebagai bahan perahu. Setelah bahan siap diada¬kanlah perundingan guna menentukan "hari baik" untuk mulai pem¬buatan perahu.
  • Pelaksanaan. Tahap pertama dan amat penting adalah pe¬nyambungan "lenggi" dengan "lonas". Sesudah itu pemasangan "se¬rap" yakni penyambungan keping-keping papan (jati). Setelah selesai barulah pemasangangan tulang-tulang, man-tamanan, por-dapor, li¬ang, penyangga layar dan lain-lain. Kemudian baru menghias dan mengecat. Warna cat umumnya terdiri atas kombinasi warna dasar yang "berani" sehingga berkesan meriah.
  • Peluncuran. Sesudah semua selesai maka tibalah saat memilih "hari baik" untuk peluncuran dengan upacara selamatan.


Adapun perkakas yang digunakan untuk pembuatan perahu itu juga alat-alat tradisional berupa: Kapak, pa'a, gergaji, rantay, jangka, sepadan, dan lain-lain.

Bagian-bagian Perahu
Bagian-bagian perahu sangat banyak dan diberi nama atau istilah menurut bahasa daerah setempat seperti: lenggi, pakes, centongan, la-calo, taju semmar, penyempolan, kamoddi, panalar dan lain-lain.

Fungsi dan Peranan Sosial
Perahu Madura sebagai khazanah budaya bangsa memiliki peran¬an sosial yang luas, sehingga fungsinya sangat penting. Diantara fung¬si-fungsi itu adalah: ekonomis, komunikatif, magis-religis dan sebagai tema kegiatan cipta.
Dalam kehidupan bermasyarakat perahu Madura banyak penga¬ruhnya, dengan demikian memang menyatu dengan kehidupan ber¬masyarakat. Pengaruh itu antara lain tampak pada: arsitektur, seni suara, seni sastra, seni lukis, kaligrafi, magis-kebatinan, percakapan sehari-hari dan sebagainya.

Mengingat akan pentingnya fungsi perahu tradisional itu bagi masyarakat Madura khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya maka kelestarian dan pengembangan baik teknis, ketrampilan mau¬pun usaha di bidang pembuatan perahu Madura itu layak mendapat perhatian kita semua, khususnya bagi instansi yang terkait. Dengan demikian kemahiran yang telah kita warisi dari leluhur kita selama berabad-abad itu takkan musnah, sebaliknya bahkan berkembang.


Galeri Gambar



Budaya Terkait