Candi Sukuh, Sebuah Bukti Ketahanan Budaya

0

Candi Sukuh yang dibangun pada abad XV merupakan candi yang berlatar belakang agama Hindu. Ini tergambar dari perlambang lingga-yoni dan motologi-mitologi Hindu yang dipahatkan pada relief dan arca-arcanya. Candi ini berlokasi di Jawa Tengah, tepatnya di Lereng Barat G. Lawu, Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Walaupun Candi Sukuh berlatar agama Hindu,  konsep-konsep kebudayaan asli Indonesia sangatlah kental. Hal ini ditunjukkan dari letak bangunan candi yang berada di dataran tinggi gunung. Gunung diyakini oleh masyarakat Jawa kala itu sebagai tempat bersemayam para dewa sekaligus dianggap nenek moyang mereka. Terdapat juga kepercayaan bahwa adanya kehidupan setelah mati. Tak heran mereka meyakini para pendahulu yang sudah mati masih turut menjaga desa dan orang-orangnya dari bahaya dan bencana. Kepercayaan ini merupakan hasil kebudayaan lokal yang berasal sejak masa prasejarah.

Ciri kebudayaan asli Indonesia juga di tunjukkan dari kompleks candi yang tersusun dari beberapa teras bertingkat dan bentuk arsitektur candi utama menyerupai piramida terpancung. Halaman teras bertingkat ini merupakan ciri khas budaya Indonesia asli jaman prasejarah yaitu punden berundak.

Candi Sukuh menjadi sebuah bukti bahwasanya pada masa klasik Indonesia yang dipengaruhi oleh budaya global berasal dari India dan tetap memunculkan budaya asli Indonesia. Kemunculan pengaruh kepercayaan Indonesia asli ini tidak menghilangkan peran serta kebudayaan Hindu yang telah ada dan akhirnya menjadi produk kebudayaan luhur yang saling melengkapi.

Makna Halaman Bertingkat di Candi Sukuh

Candi Sukuh sering digunakan sebagai tempat ruwatan pada masa lalu. Prosesi peruwatan yang dilaksanakan di kompleks Candi Sukuh dilambangkan dengan perjalanan kehidupan seorang manusia untuk menuju kesucian. Perjalananan ini disimbolisasikan dengan tingkatan kehidupan yaitu dari tingkatan yang rendah atau bersalah sampai dengan tingkatan yang telah disucikan. Tingkatan ini membagi perjalanan hidup manusia menjadi tiga tingkatan yaitu dunia bawah, tengah

, dan atas. Konsep tiga tingkatan kehidupan ini dihadirkan di Candi Sukuh melalui tiga teras yang bertingkat yang harus dilalui oleh umat yang berniat mengadakan ritual pembebasan atau ruwatan (Wardhani,2010:1-2).

Tingkat kehidupan pertama merupakan teras paling bawah yakni bagian profan. Umat pada masa itu diingatkan pada kesulitan kehidupan. Kesulitan ini disebabkan oleh masih melekatnya mala dalam diri manusia. Pada tingkatan ini bisa dikatakan bahwa manusia pada umumnya masih hidup dalam keadaan yang sengsara. Tingkatan ini juga melambangkan kehidupan manusia di dunia ini (dunia bawah).

Tingkatan kehidupan kedua merupakan bagian yang semi sakral. Umat yang melakukan ritual pada masa lampau disadarkan untuk menghilangkan kesulitan atau kesengsaraan hidup. Kesulitan atau kesulitan hidup dapat dihilangkan dengan melakukan kegiatan ritual penyucian dengan menggunakan air suci atau amrta. Tingkatan ini diperjelas dengan keberadaan relief Pande Besi. Pada masyarakat Jawa kuno profesi pande besi dipandang mempunyai status sosial khusus karena mempunyai suatu kekuatan magis. Para pande besi ini dianggap orang suci. Mereka juga dapat memberikan air suci atau amrta kepada yang membutuhkan. Tingkatan kehidupan ini dilambangkan di teras kedua (Anom,1991:117).

Tingkatan kehidupan ketiga merupakan halaman yang paling tinggi dan paling sakral tempat candi induk berada. Pada halaman ini terdapat bangunan utama dan beberapa relief. Jika para umat telah masuk ke dalam halaman ini, mereka dianggap telah mencapai kesempurnaan hidup dan terbebas dari mala. Suasana pembebasan disimbulkan dengan relief Sudhamala.

 

artikel disarikan dari situs:

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/2017/05/05/makna-halaman-bertingkat-di-candi-sukuh/

 

Share.

About Author

Leave A Reply