Cagar Budaya Pura Blanjong

0

Blanjong sebagai salah satu desa tua di Bali memiliki peninggalan dari kebudayaan masa lampau. Salah satunya ialah Pura Blanjong yang berada di wilayah Blanjong, Desa Intaran, Kelurahan Sanur Barat, Kecamatan Denpasar Selatan, Kabupaten Kota Denpasar. Pura ini terdiri dari satu halaman (mandala) yakni utama mandala, yang halaman luarnya berbatasan langsung dengan jalan raya dan hunian penduduk. Adapun pada pojok kanan belakang pura terdapat tugu prasasti.

Prasasti Blanjong merupakan sebuah prasasti yang berbentuk tugu silindris, berbahan batu padas dengan tinggi 195 cm, diameter badan 60 cm, diameter puncak 71 cm, diameter keliling 200 cm. Pada bidang sisi silindernya terdapat pahatan tulisan memakai dua jenis huruf yakni huruf jawa kuno dan pranegari, dan dua jenis Bahasa yakni Bahasa jawa kuno dan Sanskerta. Prasasti ini berangka tahun 835 Çaka, dan menyebutkan nama raja Sri Kesari Warmadewa yang merupakan cikal bakal dinasti Warmadewa di Bali.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali pada 2015 melaksanan kegiatan inventarisasi di Pura Blanjong. Tujuannya untuk mencatat peninggalan-peninggalan yang terdapat di ini Pura Blanjong, Sanur. Pada saat inventarisasi kegiatan ini diketuai oleh Ida Ayu Gede, Yuni Anita Sari, bersama Anak Agung Anom dan Ni Made Chryselia Dwiantari. Hasil dari kegiatan inventarisasi tersebut, ditemukan beberapa tinggalan yang tersimpan di Pura Blanjong, berupa Arca Ganesha, Fragmen Bangunan, Lingga, Relief Umpak Bangunan dan sebuah Candi. Berikut deskripsi beberapa peninggalan tersebut:

  1. Arca Ganesha ini memiliki ukuran tinggi 107 cm, lebar 65 cm, tebal 44 cm. Dibuat dari bahan batu padas berwarna abu-abu. Digambarkan dengan posisi duduk bersila, kedua telapak kaki bertemu dan duduk d iatas lapik berhiaskan helaian Padma ganda. Tubuh digambarkan gemuk, perut besar, duduk bersila. Kepala memakai kirita makuta berhiaskan untaian manik-manik pada bagian dahi, bagian muka dan bagian belalai pecah, mata sipit, telinga lebar. Bertangan dua, tangan kanan memegang sesuatu (karena sudah patah, belum dapat diinventarisasikan), tangan kiri patah, bagian perut pecah. Leher memakai kalung (hara) untaian manik-manik. Lengan kanan dan kiri memakai gelang lengan (keyura), memakai gelang kaki berbentuk silindris.
  2. Fragmen Bangunan, dengan bagian dasarnya berbentuk pipih dan membentuk lingkaran pipih. Di atas bagian dasar berbentuk silindris seperti badan sebuah lingga. Bagian puncak patah (gempil), bagian dasar dengan motif hiasan setengah bulatan berbentuk oval. Ukuran Fragmen ini yaitu dengan tinggi 40cm, diameter 32 cm terbuat dari bahan batu padas.
  3. Lingga, terdapat dua buah lingga yang ditemukan dengan wujud sempurna. Terdiri dari bagian kaki, badan dan kepala. Memiliki ukuran dengan tinggi 46 cm, diameter 15 cm. Terbuat dari bahan batu padas. Dalam kepercayaan Hindu, lingga berfungsi sebagai media pemujaan. Lingga adalah simbol dari Dewa Siwa.
  4. Fragmen Arca, digambarkan memakai kain sebatas lutut, memakai sampur samping, memakai gelang kaki silindris tanpa motif, memakai uncal sampai menyentuh jari kaki, memakai sandaran (stela).
  5. Fragmen Arca Nandi dalam posisi duduk, kaki ditekuk ke dalam, ekor melingkar di pantat, bagiankepala dan muka pecah.
  6. Fragmen Arca Binatang Gajah dalam posisi duduk tanpa lapik, badan gemuk, belalai menjuntai ke bawah, kaki dilipat ke dalam. Fragmen ini terbuat dari bahan batu padas dengan tinggi 36 cm, panjang 62 cm dan lebar 30 cm.
  7. Umpak,terdapat empat buah umpak (sendi) bangunan, dipahatkan relief dua orang manusia sedang berpegangan tangan, kepala memakai mahkota, dua orang tokoh pendeta sedang berpegangan tangan. Dua buah lagi tidak bias dikenali reliefnya karena sudah aus. Umpak tersebut dibuat dari bahan batu padas dengan ukuran yang berbeda-beda.
  8. Candi, terdiri dari tiga bagian, yakni bagian kaki, badan dan puncak. Bagian kaki berbentuk persegi empat sama kaki. Bagian badan di dasarnya berbentuk persegi empat, di atasnya dibentuk cekingan persegi empat sehingga terlihat seperti berpinggang. Makin ke atas membesar, pada keempat bidang sisinya dipahatkan kelopak bunga teratai. Di atas kelopak bunga teratai adalah sebuah selasar berbentuk segi empat sama sisi. Di atas selasar inilah tingkatan bagian puncak bersusun empat, terdiri dari dua tingkat berbentuk persegi empat satu tingkat di atasnya adalah bentuk sisi genta. Di atas sisi genta dihias dengan empat buah berbentuk lancipan membentuk empat sudut. Di atas hiasan ini adalah bagian puncak (murdha) berbentuk bulatan lonjong ke atas dengan bagian atasnya diberi ujung lancipan. Candi ini di susun dengan batu bata dan batu padas. Ukurannya yaitu dengan tinggi 435 cm, panjang 220 cm, lebar 220 cm.

 

sumber BPCB Bali:

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/2017/12/04/cagar-budaya-pura-blanjong/

Share.

About Author

Leave A Reply