Agenda Kebudayaan "Refleksi dan Re-Imaji Indonesia"

0

57

Jakarta, 26 Juni 2014. Bertempat di Museum Nasional Jakarta Pusat, agenda kebudayaan Refleksi Re-Imaji Indonesia secara resmi dibuka oleh Wiendu Nuryanti, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Republik Indonesia. Refleksi Re-Imaji Indonesia merupakan pameran tunggal lukisan karya Jeihan Sukmantoro. Dalam kesempatan ini, Wiendu Nuryanti menyampaikan dukungannya terhadap Jeihan Sukmantoro sebagai salah satu maestro lukis Indonesia.

Jeihan Sukmantoro melukis Wiendu Nuryanti

Para pecinta budaya dan seni masih bisa menyediakan ruang yang sejuk dan indah di tengah panasnya situasi politik negeri ini. Rasanya seperti oasis di padang pasir, ruang-ruang budaya yang dapat menyegarkan kita dari pelecehan nilai-nilai kemanusiaan dari berbagai media, demikian Wiendu Nuryanti menuturkan kata sambutannya.

Lukisan lain Jeihan Sukmantoro

Dalam pameran tunggal lukisan karya Jeihan Sukmantoro, terdapat 45 visualisasi Jeihan dengan ciri khas mata hitamnya yang merupakan metafora. Menurut kurator Mikke Susanto, mata hitam adalah sikap untuk selalu melihat lebih dalam dan lebih jauh. Seperti lubang hitam (black hole) alam semesta, mata itu menelisik untuk merefleksi hidup. Lukisan terbaru Jeihan yang diketengahkan pada agenda kebudayaan ini adalah Satrio Piningit (2014) yang menggambarkan esensi Indonesia dalam dua sosok, akan selalu ada dualisme, perbedaan, wilayah abu-abu dan kemanunggalan antara berbagai hal.

Satrio Piningit (2014)

Rangkaian acara dalam agenda kebudayaan ini diantaranya yaitu kata sambutan dari Husnas, paduan suara anak-anak Wijaya Music School dan pembacaan puisi oleh KH. D. Zawawi Imron berjudul Ibu dan Suara untuk Indonesia.

Paduan Suara Anak Wijaya Music School

Melalui karya seni rupa khususnya lukisan, kita diajak untuk berpikir lebih luwes dan imajinatif tentang dinamika hidup. Proses pengejawantahan pemikiran seniman yang divisualisasikan dalam bentuk lukisan menjadi jendela paradigma yang dapat menyuguhkan sisi kemanusiaan dengan lebih harmonis.

Seperti yang dituturkan oleh Wiendu Nuryanti , Mata dalam lukisan-lukisan Jeihan adalah mata hati. Jangan pernah berhenti berkarya, memancarkan sinar mata hati.

Bagi

Tentang Penulis

Komentar tertutup.