Memoar Para Musisi – Sinema Bentara

0

Event Details


Musik boleh dikata merupakan salah satu unsur utama dalam produksi sebuah film. Jauh sebelum film suara atau film musikal dibuat pada tahun 1927-an lewat The Jazz Singer (Alan Crosland, Amerika), film-film bisu elah menggunakan musik sebagai latar (instrumen) untuk mengisi ruang imajinasi penonton dan memberikan pemaknaan terhadap gambar-gambar bergerak; secara tidak langsung turut membangun emosi, simpati, bahkan empati pemirsanya.

Sebagai salah satu kekuatan utama sebuah film, musik ternyata bisa juga menjadi tema cerita. Tak heran bila film-film musikal memikat perhatian dan minat publik luas serta digandrungi oleh penonton. Sinema Bentara kali ini menghadirkan film-film musikal arahan sutradara-sutradara tersohor lintas bangsa. Selain itu, ditayangkan pula memoar para musisi yang tidak hanya mumpuni, namun juga turut mewarnai sejarah musik dunia. Bebarapa film yang akan diputar di antaranya: Tiga Dara (Indonesia, 1950, Usmar Ismail), The Legend of 1900 (Italia, 1998, Giuseppe Tornatore ), Stanley ka Dabba (India, 2011, Amole Gupte), dan Daft Punk Unchained (Prancis, 2015, Hervé Martin-Delpierre).

Penghargaan kepada musisi atau komposer yang berdedikasi untuk film telah diberikan sejak Academy Awards ke-7 tahun 1934 dengan kategori ‘Best Original Score’ dan ‘ Best Original Song’. Di Indonesia, film musikal diproduksi pertama kali sekitar tahun 1950-an melalui film Bintang Surabaja (1951) arahan sutradara Utomo (Fred Young), disusul dengan film Tiga Dara (1956) dan Asmara Dara (1958) karya Ismail Marzuki juga Tandjung Katung (1957) buah cipta Jacob Harahap. Kemudian berlanjut film Cinta Pertama (1973) dan Badai Pasti Berlalu (1977) arahan Teguh Karya yang juga meraih sukses serta mendapatkan penghargaan pada sejumlah festival.

Share.

About Author